Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sejarah Paramasan kab Banjar, Tempat Bermukim Pangeran Hidayatullah

Endang Syarifuddin • Kamis, 13 November 2025 | 10:24 WIB

 

Lokasi Wilayah Kecamatan Paramasan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel).
Lokasi Wilayah Kecamatan Paramasan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel).

Tahulah pian. Paramasan, wilayah ini sempat ramai diperbincangkan pada awal 2000-an karena sengketa batas dengan Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu). Setelah melalui proses panjang hingga ke Mahkamah Konstitusi (MK) dan tuntas pada 2008, tahun 2025 menjadi tonggak sejarah baru. Paramasan resmi ditetapkan sebagai kecamatan di Kabupaten Banjar.

Kecamatan Paramasan terdiri dari empat desa, yakni Paramasan Atas, Paramasan Bawah, Angkipih, dan Remo. Status baru ini menandai transformasi wilayah yang dulunya hanya berstatus desa menjadi satuan pemerintahan yang lebih mandiri.

Menurut Mansyur, sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Paramasan sudah dikenal sejak berabad-abad lalu sebagai daerah penghasil emas. Legenda rakyat menyebut, nama Paramasan berasal dari kisah dua bersaudara yang menebang pohon ulin di sekitar air terjun. Serpihan pohon itu konon berubah menjadi emas, sehingga lahirlah istilah par-amas-an atau tanah emas.

Legenda tersebut menjadi simbol kemakmuran alam Meratus sekaligus asal-usul suku Dayak Meratus. Mereka meyakini leluhur pertama adalah Datu Ayuh, keturunan Adam, yang menurunkan orang Meratus di Paramasan.

Sejarah kepemimpinan Paramasan juga panjang. Catatan adat menyebut ada 19 Datu yang pernah memimpin, dilanjutkan lima Tamanggung pada masa penjajahan Belanda. Di era modern, kepemimpinan beralih ke pambakal, dengan nama-nama seperti Pang Karbin, Amung, hingga Ibun yang masih menjabat saat ini.

Sebagai penghormatan terhadap leluhur, masyarakat adat mendirikan Hampatung atau Tugu Adat Dayak Meratus di Emil Sungai Kusan, batas Banjar dan Tanbu. Tugu yang diresmikan 29 Agustus 2006 itu menjadi simbol persaudaraan sekaligus penanda wilayah adat Paramasan.

Paramasan juga tercatat dalam sejarah perjuangan. Pada masa Perang Banjar (1859–1863), wilayah ini menjadi tempat bermukim Pangeran Hidayatullah. Demang Lehman bahkan menjadikan Mandin Mangappan (Paramasan Atas kini) sebagai markas gerilya melawan Belanda.

Dokumen kolonial Belanda tahun 1909 berjudul Beschrijving van het Landschap Peramasan mencatat Paramasan sebagai wilayah yang mencakup aliran Sungai Riam Kiwa hingga Sampanahan dan Amandit. Kala itu, masyarakat Paramasan berada di bawah Kesultanan Banjar dan membayar pajak emas kepada pejabat kerajaan, termasuk Pangeran Hidayat.

Meski modernisasi perlahan masuk ke lereng Meratus, masyarakat Paramasan tetap menjaga tradisi leluhur. Ritual adat seperti balian dan langgatan masih dijalankan, diiringi mantra kuno yang diwariskan turun-temurun.

“Paramasan bukan sekadar catatan sejarah, tapi cermin perjalanan panjang identitas Banua. Di sini adat, alam, dan sejarah Banjar menyatu dalam satu wilayah kecil, namun penuh makna,” tutur Mansyur. 

 Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#asal usul #Banjar #Desa #Sejarah #sultan