Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sejarah Datu Lamak Pagatan, Ulama Besar Kerajaan Banjar yang Masih Keturunan Datu Kelampayan

Zulqarnain RB • Senin, 10 November 2025 | 09:04 WIB
MAKAM: Kubah makam Datu Lamak di Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, Tanah Bumbu. Lokasi ini menjadi salah satu situs bersejarah di wilayah pesisir di Kalimantan Selatan.
MAKAM: Kubah makam Datu Lamak di Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, Tanah Bumbu. Lokasi ini menjadi salah satu situs bersejarah di wilayah pesisir di Kalimantan Selatan.

Tahulah Pian. Nama Datu Lamak punya posisi penting dalam sejarah Islam di Kalsel. Ia dikenal sebagai salah satu ulama besar Kerajaan Banjar dan keturunan langsung dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan). Pengarang kitab Sabilal Muhtadin yang menjadi rujukan fikih di dunia Melayu.

Datu Lamak memiliki nama lengkap Mufti Syekh H. Muhammad Arsyad bin Mufti Syekh H. M. As’ad Al-Banjari. Ia lahir di Martapura sekitar tahun 1765 M, dari keluarga ulama besar Banjar. Ayahnya, Mufti Syekh H. M. As’ad, adalah mufti di Kerajaan Banjar, sementara buyutnya adalah Datu Kalampayan.

Sejak muda, Datu Lamak menunjukkan semangat tinggi dalam menuntut ilmu. Bersama empat saudaranya, ia berangkat ke Mekkah dan berguru kepada sejumlah ulama terkemuka, di antaranya Syekh Ahmad Ad-Dimyiati, Syekh Yusuf, dan Syekh Ar-Rahbini. Keilmuannya diakui hingga ia dipercaya mengajar di Masjidil Haram, sebuah kehormatan besar bagi ulama dari Nusantara saat itu.

Setelah bertahun-tahun menuntut ilmu di Tanah Suci, ia kembali ke Banjar dan diangkat menjadi Mufti Kerajaan Banjar, menggantikan ayahnya yang wafat. Dalam posisi itu, Datu Lamak dikenal tegas, adil, dan rendah hati. Ia menjadi rujukan utama dalam perkara hukum Islam dan sering dimintai nasihat oleh para pejabat kerajaan.

Salah satu muridnya adalah Sultan Adam Al-Watsiq Billah, penguasa Banjar. Hubungan guru dan murid ini menandakan besarnya pengaruh Datu Lamak dalam kehidupan spiritual dan politik kerajaan.

Julukan “Lamak”, yang berarti gemuk dalam bahasa Banjar, diberikan karena postur tubuhnya yang besar. Namun bagi masyarakat, sebutan itu justru melekat sebagai tanda kewibawaan dan kharisma sang ulama.

Menjelang akhir hayat, Datu Lamak berangkat ke Kesultanan Kutai untuk mengunjungi saudaranya, Syekh Abu Tolhah, yang juga menjabat mufti di sana. Dalam perjalanan pulang, ia singgah di Pagatan, wilayah pesisir yang kini termasuk Kabupaten Tanah Bumbu.

Di sana, ia sempat berdakwah dan membuka majelis pengajian di Masjid Pasar Lama Pagatan. Namun tak lama kemudian, ia wafat pada tahun 1850 M (23 Rabiul Awwal 1267 H) dalam usia sekitar 85 tahun. Jasadnya dimakamkan di tepi Pantai Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir.

Makam Datu Lamak kini dikenal sebagai Kubah Pagatan, salah satu tujuan ziarah utama di Kalimantan Selatan. Setiap tahun, ribuan peziarah datang untuk mengenang jasa dan keteladanannya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Tanah Bumbu #Ulama #makam #Sejarah