Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ada Makam Keramat di Dasar Waduk Riam Kanan, Warga Percaya Ini Persemayaman Pendakwah Banjar

M Fadlan Zakiri • Rabu, 5 November 2025 | 08:37 WIB
KERAMAT: Sejumlah pengunjung menaiki perahu klotok menatap khidmat ke arah empat tonggak kayu yang jadi tanda keberadaan Makam Keramat yang Tenggelam di Desa Belangian, Kecamatan Aranio
KERAMAT: Sejumlah pengunjung menaiki perahu klotok menatap khidmat ke arah empat tonggak kayu yang jadi tanda keberadaan Makam Keramat yang Tenggelam di Desa Belangian, Kecamatan Aranio

Tahulah Pian - Suara mesin klotok terdengar lembut memecah permukaan Danau Riam Kanan yang tenang. Di atas air yang membentang luas, empat tonggak kayu berdiri tegak, sebagian dililit kain putih dan hitam, dihubungkan tali biru sederhana. Tak ada batu nisan, tak ada papan nama. Namun bagi warga Desa Belangian, lokasi sunyi itu bukan sembarang tempat. Di sanalah, menurut kepercayaan setempat, bersemayam Makam Keramat yang Tenggelam.

Situs ini terletak sekitar tiga kilometer dari tepian Desa Belangian, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar. Untuk mencapainya, pengunjung hanya bisa menumpang perahu mesin atau klotok. Ketika air surut, daratan makam kadang tampak samar dari permukaan danau, seolah memberi isyarat bahwa di bawah sana, sejarah panjang masih bernafas.

Makam tersebut dipercaya sebagai peristirahatan terakhir Syarifah Nawiyah, seorang tokoh agama Banjar asal Banjarmasin yang wafat pada tahun 1802 silam. Dalam keyakinan masyarakat, Syarifah Nawiyah adalah keturunan langsung Rasulullah SAW, sosok perempuan alim yang dihormati karena ilmu dan ketulusannya berdakwah di pedalaman Meratus.

Informasi tentang beliau memang minim, namun cerita turun-temurun menyebut bahwa Syarifah Nawiyah melarikan diri dari intimidasi Belanda sekitar tahun 1800 dan menetap di wilayah yang kini menjadi bagian dari Waduk Riam Kanan.

Kini, makamnya berada di dasar danau yang terbentuk setelah pembangunan Bendungan Riam Kanan atau PLTA Ir PM Noor pada dekade 1960-an. Bendungan yang rampung sekitar tahun 1973 itu menenggelamkan sedikitnya delapan desa. Tiwingan, Kalaan, Banua Riam, Bunglai, Rantau Balai, Rantau Buju, Apuai, dan Minunggul. Bersama rumah-rumah kayu dan kebun buah, makam keramat ini pun ikut ditelan air.

Aunul Khoir, Kepala Desa Belangian, mengatakan warga sekitar Riam Kanan sudah lama mengetahui keberadaan makam tersebut. Bahkan, mereka kerap berhenti sejenak untuk berdoa di depan tonggak kayu yang dianggap sebagai penanda makam keramat. “Tidak seperti ziarah kubur pada umumnya, momen doa ini dilakukan di tengah waduk, di atas air yang tenang,” ujarnya.

Makam itu kini hanya ditandai empat tonggak kecil yang dikelilingi tali plastik membentuk persegi panjang. Nisan tak lagi terlihat, tenggelam di dasar waduk sedalam sekitar 60 meter. Waduk Riam Kanan menyimpan lebih dari sekadar cerita spiritual.

Badan Pengelola Geopark Meratus (BPGM) Kalimantan Selatan menyebut bahwa secara ilmu bumi, susunan batuan di kawasan ini menarik perhatian peneliti luar negeri. Dasar danau Riam Kanan tersusun dari Formasi Manungul yang berusia sekitar 59–65 juta tahun, hasil endapan kipas bawah laut pada masa Kapur Akhir.

Karena nilai sejarah, spiritual, dan geologinya, situs makam keramat yang tenggelam ini kini tercatat sebagai Geosite ke-38 Geopark Meratus di jalur timur. Ia menjadi simbol keterhubungan antara masa lalu dan masa kini, antara keyakinan dan ilmu pengetahuan. 

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Riam Kanan #keramat #Banjar #Tahulah Pian #makam