Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Di Kalsel Ternyata Ada Taman Hujan Tropis Indonesia, Di Sini Lokasinya

Sheilla Farazela • Senin, 3 November 2025 | 08:36 WIB

 

RINDANG: Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia di kawasan perkantoran Pemprov Kalsel, Banjarbaru, menjadi satu-satunya hutan hujan tropis buatan di Indonesia yang kini masuk dalam situs Geopark Meratus.
RINDANG: Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia di kawasan perkantoran Pemprov Kalsel, Banjarbaru, menjadi satu-satunya hutan hujan tropis buatan di Indonesia yang kini masuk dalam situs Geopark Meratus.

Di tengah sibuknya kawasan perkantoran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, berdiri megah hamparan hijau seluas 90 hektare. Inilah Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia (TH2TI). Satu-satunya taman hutan hujan tropis buatan di Indonesia yang kini menjadi bagian dari situs Geopark Meratus.

Diresmikan pada 2019, taman yang terletak di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru ini merupakan gagasan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. 

Awalnya, bernama Miniatur Hutan Hujan Tropika (M2HT) yang dibangun sejak 2017. Sebelum akhirnya berubah nama dan diresmikan langsung oleh Presiden RI pada 2020.

Keberadaan TH2TI bukan sekadar Ruang Terbuka Hijau (RTH), tetapi juga laboratorium alam yang hidup. Di dalamnya tumbuh ratusan jenis tanaman khas Kalimantan, seperti ulin dan meranti, serta berbagai pohon endemik dari penjuru Nusantara. Mulai dari jenis ramin asal Sumatera, hingga merbau dari Pulau Enggano, Bengkulu. Tak hanya itu, beragam tanaman buah langka, mahoni, trembesi, jabon, hingga pohon kayu manis dari Pegunungan Meratus ikut menghiasi taman ini. 

Semua menjadi saksi nyata gerakan Revolusi Hijau yang berhasil merehabilitasi lebih dari 122 ribu hektare hutan dan lahan kritis di wilayah Kalsel. Apresiasi terhadap taman ini datang langsung dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya. Bahkan menugaskan Badan Litbang dan Inovasi KLHK untuk terus mendampingi pengembangannya. 

Sebanyak 500 batang bibit meranti unggul hasil teknologi KoFFCoS (Komatsu FOERDIA Fogging Cooling System) pun ditanam untuk memperkaya ekosistem hutan tropis tersebut.

Kini, TH2TI bukan hanya ikon Banjarbaru, tapi juga bagian penting dari rute selatan Geopark Meratus yang bertema “Sebuah Kilau Perjalanan dari Hutan Hujan Tropis Menuju Intan”. Dari sinilah perjalanan wisata edukatif tentang alam Kalimantan dimulai. Sebuah perpaduan antara keindahan, ilmu pengetahuan, dan konservasi.

Meski indah, menjaga hutan buatan ini bukan perkara mudah. Pekerja taman mengaku pohon ulin menjadi jenis paling sulit dirawat. Banyak bibit yang harus ditanam ulang akibat serangan hama akar di tahun-tahun awal. Saat kemarau panjang, penyiraman dilakukan intensif untuk mencegah tanaman mati.

Keanekaragaman hayati di TH2TI juga menarik satwa liar seperti ular kobra, biawak, hingga lebah hutan. Semua menjadi bagian dari rantai ekosistem yang kembali hidup di tengah kota.

Kini, ketika dunia tengah berpacu menghadapi perubahan iklim, keberadaan TH2TI menjadi bukti bahwa konservasi bisa dimulai dari kota. Sebuah oase hijau di Kota Banjarbaru yang bukan hanya meneduhkan, tapi juga menegaskan peran Kalimantan Selatan sebagai penjaga paru-paru dunia.


Editor : Arief