Salah satu elemen penting dalam arsitektur tradisional Rumah Banjar, khususnya Rumah Bubungan Tinggi, adalah Tawing Halat. Bagian bangunan ini merupakan dinding pembatas utama yang memisahkan ruang Panampik Basar (semi-privat) dengan ruang Palidangan (privat) di dalam rumah. Keberadaan Tawing Halat bukan hanya berfungsi sebagai batas fisik, tetapi juga memiliki nilai filosofis bagi masyarakat Banjar.
Budayawan Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur menjelaskan bahwa ruang dalam Rumah Banjar terbagi secara jelas berdasarkan fungsi sosialnya. “Tawing Halat merupakan dinding yang memisahkan ruang untuk menerima tamu dengan ruang keluarga inti yang sifatnya lebih privat,” ujarnya.
Keunikan Tawing Halat tampak pada keberadaan Lawang Kembar. Dua pintu yang terletak di sisi kanan dan kiri dengan bentuk serta ornamen serupa. Daun pintu tersebut dihiasi ukiran relief anyaman tali atau tali bapintal yang menjadi simbol kuatnya ikatan keluarga dan komitmen terhadap ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat Banjar.
Tak hanya sebagai pembatas ruang, Tawing Halat juga memiliki peran penting dalam beberapa tradisi budaya. Seperti terjadi di Wayang Sampir atau pertunjukan Wayang Kulit Banjar. Pada tradisi tersebut, bagian tengah Tawing Halat dapat dibuka sehingga batas simbolik antara “dalam” dan “luar” terhubung menjadi satu. “Ketika pertunjukan berlangsung, raja atau keluarga berada di sisi dalam melihat wayang secara langsung. Sedangkan masyarakat umum berada di luar menyaksikan bayangan wayang. Tawing Halat menjadi batas dua dunia yang saling menyatu,” jelas Ersa.
Menurutnya, fungsi ritual dan simbolis tersebut menjadikan Tawing Halat sebagai elemen arsitektur yang tidak hanya estetik, juga mencerminkan struktur sosial dan nilai spiritual masyarakat Banjar sejak masa kerajaan.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief