Di balik rimbun pepohonan dan udara sejuk Kecamatan Bajuin, tersimpan kisah panjang lahirnya Desa Galam. Sebuah desa yang kini tumbuh menjadi wilayah dengan potensi alam menjanjikan.
Lokasinya terletak sekitar 10 kilometer dari Kantor Kecamatan Bajuin, atau 6 kilometer dari ibu kota Kabupaten Tanah Laut Pelaihari. Kalau ditempuh dari ibu kota provinsi jaraknya 71 kilometer.
Kepala Desa Galam, Dwiyono menyebut desa ini dulunya merupakan bagian dari Desa Ketapang, sebelum resmi dimekarkan pada tahun 1982. Namun, jauh sebelum itu, wilayah ini dikenal dengan sebutan “Pedalaman”. Nama ini mencerminkan kondisi geografisnya yang masih berupa hutan lebat, dan belum tersentuh pembangunan. Apalagi desa ini menyimpan jejak sejarah yang menarik sejak masa lampau.
“Dahulu, kawasan ini menjadi tempat pelarian bagi kelompok orang-orang dari gerombolan Ibnu Hajar. Mereka masuk ke hutan pedalaman untuk bertahan hidup, dan mulai menetap di sana,” tutur Dwiyono.
Seiring waktu, wilayah yang dahulu disebut Pedalaman mulai berkembang menjadi permukiman. Namun, karena nama “Pedalaman” dianggap terlalu panjang dan sulit diucapkan dalam percakapan sehari-hari, masyarakat mulai menyebutnya dengan istilah “Dalam”.
Hingga akhirnya, terjadi perubahan penyebutan yang unik. Dari Dalam menjadi “Galam”, karena pengucapan kedua kata itu terdengar mirip. Nama itulah yang kemudian diresmikan pada tahun 1982, dan tetap digunakan hingga kini.
Desa Galam kini berbatasan dengan Desa Ketapang di utara, Desa Bumijaya di selatan, Desa Pemalongan di timur, serta Desa Tirtajaya di barat. Dengan luas wilayah yang cukup strategis, desa ini berkembang menjadi salah satu daerah dengan potensi ekonomi yang beragam di Kabupaten Tanah Laut.
Dalam hal pembangunan infrastruktur, Desa Galam juga terus digalakkan. Mulai dari jalan penghubung antardesa, hingga sarana pendidikan seperti taman kanak-kanak dan sekolah dasar yang sudah tersedia bagi warga setempat.
Mayoritas penduduk Desa Galam memeluk agama Islam. Namun kehidupan sosial masyarakat tetap harmonis dengan hadirnya warga yang beragama Kristen dan Buddha. Kerukunan antarumat beragama menjadi salah satu kekuatan sosial yang mengikat warga di desa ini.
Dari sisi ekonomi, Desa Galam memiliki potensi yang cukup beragam. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani padi, pekebun sayur dan buah, serta peternak sapi dan bebek. Selain itu, kegiatan wirausaha lokal juga tumbuh pesat, mulai dari bengkel, industri pangan telur asin, industri air lahang, hingga pembuatan gula merah dan pengolahan kemiri.
Kini, Desa Galam bukan lagi sekadar “pedalaman” sebagaimana asal-usul namanya. Ia telah menjelma menjadi desa yang hidup, mandiri, dan kaya akan sejarah. Menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Tanah Laut dari masa perjuangan hingga era pembangunan.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief