Puanna Dekke dikenal sebagai bangsawan dan pedagang Bugis asal Wajo, Sulawesi Selatan. Ia meninggalkan tanah kelahirannya setelah terjadi kekacauan politik, lalu berlayar ke Kalimantan.
Saat itu, wilayah pesisir selatan Kalimantan masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Banjar. Sebagai pendatang, ia harus terlebih dahulu meminta izin kepada Panembahan Kaharuddin Halilullah di Martapura untuk membuka daerah baru.
Sang panembahan memberi dua syarat. Pertama, Puanna Dekke harus menanamkan modal untuk membangun permukiman di lahan hutan yang belum digarap. Kedua, ia wajib menjaga keamanan perairan di Muara Pagatan yang sering menjadi tempat bersembunyi para perompak.
Puanna Dekke menyetujui kedua syarat itu, dan mulai membuka kawasan baru yang kelak dikenal sebagai Pagatan.
Meskipun berperan besar dalam membuka wilayah tersebut, Puanna Dekke tidak mengangkat dirinya sebagai raja. Ia hanya berperan sebagai tokoh pendiri, dan memilih mengundang kerabatnya dari Kalimantan Barat, yakni Pua Janggo dan La Pagala.
Dari keturunan mereka kemudian muncul La Pangewa, cucu Puanna Dekke yang memiliki darah bangsawan tinggi dari Wajo. La Pangewa inilah yang akhirnya dinobatkan sebagai raja pertama Pagatan. Karena masih muda saat penobatan, pemerintahan Pagatan sementara dijalankan oleh pamannya, Raja Balo, hingga La Pangewa dianggap cukup dewasa untuk memimpin.
Catatan sejarah menyebut, sebelum dibuka secara resmi oleh Puanna Dekke sekitar tahun 1735, sudah ada beberapa keluarga Bugis dan Banjar yang lebih dulu bermukim di kawasan itu sejak akhir 1720-an. Namun, kedatangan rombongan Puanna Dekke menjadikan Pagatan tumbuh pesat sebagai pusat perdagangan di pesisir tenggara Kalimantan.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief