Bagi sebagian orang, Ketan Inti mungkin hanya sekadar jajanan pasar. Namun bagi masyarakat Banjar, penganan ini punya makna lebih dari sekadar kudapan manis. Tahulah Pian, Ketan Inti kerap menjadi bagian penting dalam setiap acara selamatan, hingga syukuran kelahiran dan khataman Al-Qur’an.
Terbuat dari ketan putih yang dikukus hingga pulen. Lalu ditaburi dengan inti kelapa parut yang dimasak bersama gula merah dan santan. Rasanya manis gurih dan legit di lidah. Aromanya pun khas wangi kelapa berpadu dengan gurih santan yang membangkitkan kenangan akan dapur nenek di kampung. "Kalau buat Ketan Inti itu jangan asal. Takarannya harus pas. Kalau airnya kebanyakan, ketannya bisa lembek. Kalau kurang malah keras (karau)," ucap Siti Salamah (49).
Salamah mengaku telah membuat Ketan Inti sejak usia belasan. Belajar dari ibunya yang ahli membuat kue. Baginya, memasak Ketan Inti bukan sekadar soal rasa, tapi juga soal niat. "Biasanya untuk acara selamatan, ada tasmiahan, syukuran, atau maulid," ujarnya.
Dalam prosesnya, beras ketan dicuci bersih. Kemudian direndam lebih dulu kurang lebih 5 menit, dan ditiriskan agar mudah dikukus dan hasilnya lebih pulen. Setelah setengah matang, ketan dikukus ulang dengan santan dan garam secukupnya agar gurih. Sedangkan inti diolah dari campuran kelapa parut dan gula merah cair yang dimasak hingga kental dan berminyak.
Dalam tradisi Banjar, Ketan Inti melambangkan keterikatan dan doa yang manis. Ketan sebagai simbol keterikatan hati dalam keluarga atau komunitas. Sementara rasa manisnya mencerminkan harapan agar hidup yang dijalani penuh berkah dan kebahagiaan.
Meski makanan kekinian terus bermunculan, Ketan Inti tetap punya tempat di hati. Ia menyimpan nilai-nilai budaya yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. "Selama masih ada yang mau melestarikan, insya Allah Ketan Inti tidak akan hilang," yakin Salamah.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief