Tahulah pian, istilah Iko-Iko? Bagi masyarakat Suku Bajau Samah di Desa Rampa, Kotabaru, tradisi ini bukan sekadar hiburan atau nyanyian. Iko-Iko adalah sastra lisan yang sarat pengetahuan. Berfungsi layaknya “kurikulum hidup” bagi mereka.
Dosen Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Novyandi Saputra mengungkapkan Iko-Iko menyimpan warisan pengetahuan yang komprehensif. Isinya mencakup sejarah, hukum adat, metode pengobatan tradisional, hingga pedoman praktis kehidupan sehari-hari, khususnya terkait mata pencaharian melaut.
“Iko-Iko tidak hanya bernilai seni, tetapi juga menyimpan pesan moral, nilai pendidikan, hingga norma yang menjaga harmoni masyarakat Bajau Samah. Bahkan, ada pula ajaran tentang bagaimana menjaga alam,” jelas Novyandi.
Bersama tradisi lisan lain seperti Alahai dan Batuturan, Iko-Iko kini tengah diperjuangkan untuk masuk daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. Langkah ini menjadi awal penting dalam pencatatan dan pendataan kekayaan budaya di Kotabaru.
Budayawan Kalsel, H Rudi Nugraha mengaku bangga tradisi Bajau Samah mulai diangkat ke permukaan. “Budaya Bajau Samah Kotabaru ini unik. Mereka punya ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki Bajau Samah di daerah lain,” ucapnya.
Rudi berharap Iko-Iko bukan hanya diakui sebagai WBTB, tapi juga bisa didorong hingga tingkat internasional melalui UNESCO. “Kalau ini berhasil, akan menjadi kebanggaan besar. Tidak hanya untuk Kotabaru, tapi juga Kalimantan Selatan dan Indonesia,” pungkasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief