Tombak bukan sekadar senjata tajam. Di tanah Kalimantan Selatan, ia menjelma simbol kekuatan, keberanian, dan jati diri.
Sejak ratusan tahun lalu, senjata bermata tajam itu menyatu erat dalam kehidupan masyarakat. Bukan hanya sebagai alat berburu atau bertempur, tapi juga sarana sakral dalam ritual adat yang sarat makna spiritual.
"Tombak tidak hanya dipandang sebagai alat fisik, tetapi juga punya makna simbolik yang kuat dalam kehidupan masyarakat Banjar dan Dayak," ujar sejarawan UIN Antasari, Mursalin, Rabu (24/9) malam.
Dalam sejarahnya, tombak-tombak dari Kalimantan Selatan memiliki ciri khas desain yang unik. Bahkan kerap dihiasi ukiran dan ornamen dari bahan alami.
Keberadaannya pun, kata penulis buku Tombak Banjar: Jejak Sejarah Senjata Tradisional di Kalimantan Bagian Selatan ini, tombak bukan hanya sebagai alat perang. Melainkan juga penanda identitas dan ketangguhan.
Dari sekian banyak tombak yang pernah diayunkan dalam pertempuran, satu di antaranya menyimpan kisah besar. “Itu adalah Tombak Dayak bersumpit yang diyakini ikut dalam tragedi tenggelamnya kapal perang Belanda, Stoomschip Onrust, pada 26 Desember 1859,” tuturnya.
Jejak Perang dari Dasar Sungai
Di antara koleksi Museum Negeri Lambung Mangkurat, Banjarbaru, tersimpan satu tombak langka yang memuat jejak sejarah kelam Perang Banjar. Tombak Dayak bersumpit itu memiliki lubang sumpit dekat mata tombak, lubang tiup di ujung gagang, serta lubang angin di bagian tengah.
Gagangnya terbuat dari kayu dililit rotan. Sedangkan mata tombaknya bermotif daun paring dari besi tempa sepanjang 30 sentimeter. "Tempat penemuannya di lokasi tenggelamnya kapal Onrust di wilayah Lontontuor, Barito Utara," ungkap Mursalin.
Tombak Dayak bersumpit yang ditemukan di lokasi tenggelamnya Onrust diyakini menjadi saksi bisu pertempuran legendaris itu. “Besar kemungkinan, senjata tersebut pernah digenggam oleh salah satu dari 15 panglima pengikut Pangeran Antasari yang menggempur kapal Belanda hingga karam,” beber Mursalin.
Kapal Onrust adalah kapal perang Belanda yang karam dalam salah satu babak paling dramatis Perang Banjar. Peristiwa itu dipimpin langsung oleh Temanggung Surapati, pengikut setia Panglima Perang Banjar Pangeran Antasari.
Sebelum pertempuran pecah, Surapati dan sejumlah tokoh perang sebenarnya sempat melakukan perundingan di wilayah Guieyu (Huyut). Dalam perundingan itu disepakati, Antasari tak akan hadir karena menjadi target utama penangkapan Belanda. Surapati ditunjuk memimpin diplomasi sekaligus siasat perang.
Tanggal 26 Desember 1859 siang, Temanggung Surapati bersama 15 panglima dan sekitar 500 prajuritnya mendatangi kapal Onrust. Dari pihak Belanda, ekspedisi dipimpin Letnan I Laut Van der Velde dengan kekuatan 10 perwira, 40 marinir terlatih, dan 43 awak kapal.
Perundingan awal berlangsung tenang. Van der Velde bahkan mengajak Surapati dan anak buahnya melihat-lihat meriam kapal. Namun, ketegangan pecah ketika seorang marinir Belanda mendorong anak buah Surapati. "Temanggung Ibon, putra Surapati, tak bisa menahan diri. Ia langsung menghunus mandau dan menyerang Letnan Bangert," tutur Mursalin.
Teriakan perang pun pecah. Surapati yang berada di geladak kapal segera menebas dada Van der Velde. Pertempuran jarak dekat terjadi, menewaskan seluruh serdadu Belanda yang berjumlah 90 orang.
Kapal Onrust pun ditenggelamkan ke dasar Sungai Barito bersama persenjataan dan perwiranya. Hanya satu orang Belanda yang selamat, Haji Muhammad Thalib, juru runding yang kemudian melaporkan tragedi itu ketika tiba di Banjarmasin pada 31 Desember 1859. “Peristiwa ini tercatat sebagai kekalahan paling telak Belanda selama Perang Banjar,” sebut Mursalin.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief