Tahulah Pian, di balik geliat pembangunan yang tampak di Desa Mayanau, tersimpan kisah panjang tentang asal-usul nama desa di dataran tinggi Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan.
Desa Mayanau dikenal sebagai kawasan yang dulunya masih masuk wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Kala itu, pembangunan masih berjalan lambat. Namun, sejak pemekaran wilayah dan berdirinya Kabupaten Balangan pada tahun 2003, geliat pembangunan mulai terasa. Infrastruktur meningkat, perekonomian tumbuh, dan sektor pendidikan, kesehatan hingga sosial pun ikut berkembang.
Namun yang menarik, bukan hanya kemajuannya hari ini. Nama "Mayanau" itu sendiri punya sejarah unik. Ada dua versi yang berkembang di tengah masyarakat. Keduanya sama-sama menggambarkan dinamika masa lalu yang kaya akan nilai budaya dan ekonomi.
Versi pertama berkaitan erat dengan aktivitas perdagangan di masa lampau. Konon, warga dari daerah hulu Sungai Pitap kerap mengangkut hasil bumi seperti manau, paikat, dan pisang menggunakan lanting (rakit bambu khas Kalimantan), untuk kemudian dijual di pasar Desa Mayanau. Pasar tradisional ini hanya buka setiap Kamis, dan menjadi titik pertemuan para pedagang dari berbagai daerah. "Dari kata 'Manau' inilah kemudian muncul sebutan 'Mayanau'. Karena aktivitas menggunakan manau itu cukup sering dan menjadi ciri khas desa," terang Ahmadiyanto M.Pd, Tim Pengembang dan Penyusun Buku Muatan Lokal Kabupaten Balangan.
Sementara versi kedua mengacu pada kondisi alam di masa silam. Desa ini dulunya dipenuhi oleh pohon Hanau atau Aren, yang dimanfaatkan warga untuk memproduksi gula merah. Keberadaan pohon hanau sangat dominan hingga akhirnya dijadikan penanda wilayah. "Nama Mayanau bisa juga berasal dari banyaknya pohon hanau di sekitar desa. Tapi seiring waktu, pohon-pohon itu ditebang dan digantikan dengan tanaman seperti karet," lanjut pria yang juga merupakan Kepala SMPN 3 Batumandi itu.
Tak hanya soal nama, Mayanau juga menyimpan nilai sejarah. Pada masa penjajahan Belanda, desa ini sempat menjadi lokasi persembunyian warga. Padang ilalang yang luas, atau dalam bahasa Banjar disebut 'Padang Halalang', menjadi tempat ideal untuk bersembunyi dan membangun permukiman baru. Pembukaan lahan ini dipimpin oleh tokoh masyarakat seperti H Ampur dan Faqih yang berperan sebagai 'Hulu Wagah' atau pemimpin rombongan.
Kini, masyarakat Mayanau hidup dalam semangat gotong royong yang tetap terpelihara. Mulai dari kegiatan adat, kerja bakti lingkungan, hingga pembangunan tempat ibadah. Semua dilakukan bersama-sama dan sukarela. Mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai pekebun karet. Setidaknya, sekitar 70 persen menggantungkan hidup dari sektor perkebunan dengan luasan mencapai 200 hektare.
Dengan luas wilayah sekitar 13 kilometer persegi, Desa Mayanau menyimpan banyak potensi. Sumber daya alam, lembaga pendidikan, hingga kekuatan masyarakatnya menjadi modal besar untuk terus berkembang. "Harapannya, semua elemen bisa terlibat dalam pengelolaan potensi yang ada. Baik pemerintah, masyarakat maupun pihak swasta," pungkas Ahmadiyanto.
Nama boleh berasal dari manau atau hanau. Tapi yang pasti, Desa Mayanau hari ini adalah wujud nyata dari semangat kebersamaan dan kerja keras warganya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief