Wilayah Kusan di Tanah Bumbu pada abad ke-19 dikenal kaya sumber daya alam. Catatan peneliti Belanda menyebut kawasan ini memiliki tambang emas, berlian, serta hutan yang menghasilkan kayu ulin, rotan, dan madu.
Distrik utama di wilayah ini adalah Kusan, Selah, Selilau, dan Tamuni. Meski kekayaan alam melimpah, laporan Carl Schwaner justru menggambarkan Kusan sebagai wilayah miskin. Schwaner merupakan seorang spesialis geologi dan mineralogi dari Hindia Belanda.
Pada masa itu, Kusan belum memiliki teknologi pengolahan maupun jaringan dagang yang memadai. Akibatnya, hasil tambang lebih banyak tertahan di perbukitan daripada sampai ke pasar.
Medan menuju Kusan juga dikenal berat. Wilayah ini memang dikelilingi perbukitan dan hutan lebat. Bila jalur darat sulit ditembus, satu-satunya akses lain adalah jalur sungai. Itu pun tak semua kawasan bisa dijangkau dengan mudah.
Karena terisolasi, perdagangan di Kusan hanya berlangsung dalam skala kecil. Sebagian besar kebutuhan pokok justru didatangkan dari Pagatan.
Saat itu, Pagatan sudah lebih dulu tumbuh sebagai daerah strategis di Tanah Bumbu. Letaknya di pesisir, berhadapan langsung dengan laut, membuat arus barang dan orang lebih mudah keluar masuk.
Penduduk Pagatan lebih padat, hasil alamnya melimpah, dan tanahnya lebih subur. Kondisi itu membuat roda ekonomi Pagatan berputar lebih cepat dibanding Kusan yang terisolasi di pedalaman.
Dari sisi politik, Kusan dipimpin seorang pangeran bersama kerabatnya. Namun, kewenangan itu terbatas karena sejak pertengahan abad ke-19 wilayah ini sudah masuk dalam sistem Landschap Hindia Belanda. Pangeran hanya berfungsi sebagai penguasa lokal, sementara keputusan besar tetap diatur pemerintah kolonial.
Kerajaan Kusan sebenarnya tak bisa dilepaskan dari Kesultanan Banjar di Martapura. Awalnya, wilayah Kusan adalah tanah apanase (semacam hadiah tanah) untuk Pangeran Purabaya, cucu Sultan Banjar. Jadi posisinya bukan kerajaan yang benar-benar berdiri sendiri, melainkan masih bagian dari wilayah Banjar.
Karena Pangeran Purabaya dan keturunannya sempat menjadi oposisi terhadap istana, Kusan lalu berkembang menjadi basis politik bagi pangeran-pangeran yang tersingkir dari pusat.
Kondisi ini membuat Kusan tak pernah benar-benar mandiri sebagai kerajaan. Meski luas wilayahnya besar dan sumber daya alamnya melimpah, secara politik Kusan berada di bawah bayang-bayang Martapura dan kemudian Belanda.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief