Tahulah pian hubungan dagang antara Kerajaan Negara Dipa dan Negara Daha dengan saudagar Jawa dari Negeri Majapahit.
Hubungan dagang ini diawali oleh Kerajaan Dipa. Terjalin sekitar abad ke-8 sampai ke-13. Kemudian dilanjutkan oleh Kerajaan Daha dari abad ke-13 sampai dengan abad ke-15.
Kerajaan Negara Dipa yang diperkirakan di sekitar kawasan Candi Agung Amuntai pada awalnya memang bertumpu pada ekonomi perdagangan.
Yusliani Noor dalam bukunya Islamisasi Banjarmasin menyebut bahwa Empu Jatmika sebagai seorang saudagar dari Kerajaan Dipa menempatkan Muara Hulak (Daha Selatan) dan Muara Rampiau (Margasari) sebagai bandar pelabuhan.
Hubungan dagang antara dua kerajaan dengan Saudagar Jawa yang dikoordinasi oleh Raden Sekar Sungsang dari Jawa Timur terjalin begitu panjang. Ternyata kedua belah pihak sama-sama saling membutuhkan beberapa komoditas penting. Terutama beras yang banyak dihasilkan oleh Pulau Jawa.
Begitu pula sebaliknya Jawa sangat memerlukan damar untuk berbagai keperluan. Seperti menutup lubang di kapal, serta sebagai pelita di malam hari.
Sejarah mencatat bahwa beberapa contoh komoditas yang diperdagangkan keduanya. Antara lain lilin sepuluh pikul, damar batu seratus kindai, paikat seratus gulung, intan dua biji, tikar lampit seratus kodi.
Sementara itu, komoditas yang dikirim dari Jawa yakni beras sekoyan, nyiur seribu, gula sepuluh tampayan, minyak nyiur sepuluh tampayan, bawang merah seratus kindai, asam kamal, raragi, kain batik saraba sepuluh lembar.
Raja-raja pada saat itu memanfaatkan para juragan atau nakhoda sebagai pedagang keliling untuk membawa barang dagangan dari para saudagar sekaligus para bangsawan.
Bahkan hubungan dagang antara Kerajaan Dipa dan Daha dengan Jawa disebut dalam Hikayat Banjar sebagai berikut. "Takhta Negara Daha itu seperti takhta Negeri Majapahit itu. Maka orang Jawa banyak berdagang, ada yang diam sekali itu. Maka makmurlah dagang datang ke bandar di Muara Bahan itu".
Bandar Muara Bahan merupakan bandar niaga yang terletak di wilayah Rantauan Bakumpai. Nama Muara Bahan ini yang juga menjadi cikal bakal nama Ibu Kota Barito Kuala yaitu Marabahan.
Editor; Eddy Hardiyanto
Editor : Arief