Tahulah Pian, nama Binuang. Begitu terkenal di telinga masyarakat Kalimantan Selatan.
Maklum, wilayah ini sempat jadi primadona persinggahan sejenak bagi sopir taksi rute Banjarmasin ke Hulu Sungai maupun sebaliknya. Tempat penumpang mengisi perut, sebelum melanjutkan perjalanan.
Kecamatan ini hanya sebuah titik di peta. Tapi titik itu menghubungkan Tapin dengan Banjar dan Hulu Sungai. Jalur daratnya sibuk.
Nama Binuang sendiri? Konon dari pohon. Pohon raksasa. Octomeles sumatrana. Pohon yang batangnya begitu besar. Lima orang dewasa pun belum cukup untuk memeluknya. “Dulu di sekitar terminal pernah ada pohon Binuang yang sangat besar. Itu asal-usul namanya,” kata Mislani, warga setempat.
Tapi ada juga cerita lain. Dari Belanda. Binoung — terbaca Binuang. Dan nama itu telanjur melekat sampai sekarang.
Sejarah mencatat, kawasan Tapin, termasuk Binuang, pernah berada di bawah Kerajaan Banjar. Hasil hutan jadi komoditas utama. Rotan. Damar. Kayu. Semua lewat sini. Hulu dan hilir bertemu di Binuang. Ada jalur sungainya.
Belanda datang. Binuang berubah. Karet jadi primadona. Sampai sekarang, karet masih menghidupi banyak keluarga. Dari generasi ke generasi.
Setelah Indonesia merdeka, Tapin resmi jadi kabupaten tahun 1965. Sejak itu, Binuang tumbuh. Jadi pusat perdagangan. UMKM. Jalur lalu lintas.
Sekarang Binuang makin ramai. Pasar penuh. Jalan padat. Ekonomi menggeliat.
Tapi jangan lupa. Di balik semua itu ada sejarah panjang. Dari pohon raksasa. Dari rotan dan damar. Dari perkebunan karet zaman Belanda.
“Dulu hutan belantara. Rawa-rawa. Padang ilalang. Sekarang pusat perdagangan. Itulah perjalanan Binuang,” ujar Mislani.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief