Tahulah Pian, STM YPK Banjarbaru begitu legendaris di Banjarbaru. Bahkan, orang mengasosiasikan jalan di depan sekolah itu adalah jalan STM. Ini adalah sekolah teknik tertua yang ada di Kalimantan.
Mengutip buku sejarah Banjarbaru, pada awal-awal pendiriannya, ada ratusan murid di sekolah yang berasal dari luar Kalimantan Selatan. Dari Kaltim, Kalteng, bahkan Jawa. Tak pelak, sekolah ini adalah institusi pendidikan tua yang menjadi saksi perubahan cepat Kota Banjarbaru dari masa ke masa.
STM YPK dibangun oleh sang pendiri Kota Banjarbaru DAW Van Der Piejl. Dahulu lokasi ini menjadi gudang logistik para pekerja dari Proyek Besi Baja Kalimantan (PBSK) setelah ditinggalkan karena peristiwa G30 SPKI. Bangunan ini difungsikan sebagai sekolah.
Pada awal pendiriannya hanya ada dua bangunan yaitu tempat perlengkapan dan gudang. Sekarang bangunan ini masih dipakai sebagai kantor dan aula sekolah.
Sejak diresmikan pada tahun 1968 oleh Wali Kota Banjarbaru Baharudin, sekolah ini telah meluluskan banyak tokoh Banjarbaru. Sebagian kecil dari mereka bahkan kini namanya dikenal secara nasional.
Pada awalnya, ide pendirian sekolah ini karena Van Der Peijl merasa sangat kesulitan untuk mendapatkan tenaga-tenaga berkualifikasi teknik di masa itu. Hal itu sudah dirasakannya sejak pembangunan kantor-kantor pemerintah di Banjarbaru.
Padahal memasuki era baru selepas kemerdekaan, negara sedang getol-getolnya membangun.
Van Der Peijl tidak langsung mewujudkan apa yang diimpikannya. Ia masih harus memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya setelah berhenti diperbantukan di pemerintahan pada tahun 1958.
Di tahun itu, Van Der Piejl kembali ke Banjarbaru. Kemudian mengisi masa pensiun dengan mengajar ilmu pasti di SMA Banjarbaru. Pendidikan menjadi salah satu bidang yang menjadi konsen Van Der Peijl dalam pembangunan Banjarbaru.
Tak ingin berpangku tangan, ia juga mendirikan Bioskop Sederhana. Bioskop ini kelak berubah menjadi Bioskop Dirgantara, dan dikelola oleh TNI Angkatan Udara.
Bioskop Sederhana menjadi pusat hiburan masyarakat Banjarbaru yang masih kesepian di kota baru kala itu. Antusiasme masyarakat mencari hiburan membuat Bioskop Sederhana mencetak pemasukan yang lumayan bagi Van Der Peijl. Diam-diam, pemasukan dari bioskop juga dikumpulkan untuk mendirikan apa yang selama ini telah menjadi cita-citanya: sekolah teknik.
Pendidikan teknik masih menjadi sesuatu yang langka, sekaligus amat krusial di Provinsi Kalimantan Selatan kala itu. Van Der Piejl menginginkan putra-putri Kalimantan menjadi subjek bagi pembangunan daerah mereka sendiri.
Keinginan itu tercapai di tahun 1968. Van Der Piejl berhasil mendirikan SP-STM, dan kemudian menjadi sekolah teknik pertama kali di Kalimantan.
Pada awalnya, lokasi sekolah berada di belakang rumahnya di Banjarbaru nomor 3, dan berkantor di ruangannya. Seiring tidak mampu lagi memuat para siswa, kemudian dipindah ke Universitas Lambung Mangkurat, hingga kemudian diambilalih kembali oleh Unlam di tahun 1973 karena kampus juga mulai membuka beberapa fakultas.
Tidak adanya tempat yang cukup untuk menampung sempat membuat Van Der Peijl resah, karena antusias masyarakat menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah teknik begitu besar.
Pada peringatan 17-an di lapangan Murdjani tahun 1968, Van Der Peijl kemudian mengutarakan maksudnya kepada Wali Kota Banjarbaru, Baharuddin.
Sang pendiri kota bermaksud memanfaatkan gudang-gudang eks pabrik biji besi Kalimantan sebagai wadah sekolah teknik yang baru. Ide ini disambut oleh wali kota administratif itu karena memiliki visi pendidikan yang sama dengan Van Der Peijl.
Segera setelah Baharudin meletakkan batu pertama sekolah STM di lokasi yang baru, ratusan murid baru mulai mendaftar ke STM. Van Der Piejl harus mencurahkan energi dan fokus untuk sekolah rintisannya itu. Ia turun mengajari langsung para murid-murid yang bersekolah.
Dalam kesaksian Rico Hasyim, Ketua Yayasan YPK saat ini, Van Der Peijl tiap pagi bersepeda dengan rutin, dan memimpin apel upacara di STM YPK.
Van Der Peijl sempat menginisiasi adanya Akademi Teknik Negeri, meski pada akhirnya tidak terwujud. Bakti Van Der Pieil di bidang pendidikan di kota yang dibangunnya benar-benar total. Ia hampir mengurus semuanya, mulai dari pelajaran, silabus, data murid dan kearsipan.
Di masa-masa awal berdirinya, ada tiga jurusan di STM ini, yaitu jurusan mesin, listrik dan bangunan. Semuanya bersesakan di ruangan yang serba langka perlengkapan.
Untuk praktik lapangan saja siswa-siswa ini dititipkan ke proyek-proyek (pemborong pembangunan), pabrik kertas (jurusan mesin), PLN (listrik). Sedangkan guru-gurunya karyawan proyek, pegawai negeri yang menyambi kerja selain mengajar di STM. Toh setiap tahun STM meluluskan siswa yang mendapatkan kerja di beberapa instansi.
Pada 27 September 1974, saat mempersiapkan soal-soal ujian untuk STM, Van Der Piejl mengalami sesak napas. Pria perokok ini memang memiliki riwayat gangguan jantung. Ia berbaring di ranjangnya, dan seorang dokter keluarga segera dipanggil untuk memeriksa. Dokter yang mendiagnosis Van Der Piejl kelelahan, ditambah dengan komplikasi penyakitnya. Dokter menyarankan Van Der Piejl dibawa ke rumah sakit untuk ditangani lebih intens.
Tapi, sebelum kemudian bisa dibawa ke rumah sakit, Van Der Piejl akhirnya menghembuskan napas terakhirnya dengan damai di tengah-tengah keluarganya. Ia meninggal dalam usia 73 tahun, dan dimakamkan di pemakaman Pulau Beruang, Landasan Ulin. Van der Pijl meninggalkan seorang istri dan dua anak perempuan yaitu Andrea Cornelia dan Marijke Elizabeth.
Ia mewariskan sekolah STM yang kini terus berkembang sesuai mimpinya, menyuplai ahli-ahli teknik terbaik untuk pembangunan di Banjarbaru, bahkan Kalimantan Selatan. Tetapi yang paling utama, tentu saja legasi terbesarnya adalah Kota Banjarbaru.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief