Laut adalah berkah. Tapi di Kotabaru, laut juga bisa menjelma sebagai sumber marah.
Dinas Kelautan dan Perikanan Kotabaru mencatat angka sekitar 14 ribu nelayan. Semuanya menggantungkan hidup dari tangkapan ikan.
Di Pulau Sembilan, hampir tak ada pilihan lain. Kalau bukan melaut, ya tidak hidup.
Tapi melimpahnya ikan tidak selalu berarti damai. Justru di situlah benih konflik.
Kabid Penangkapan dari Dinas Perikanan, Toni menyebut konflik itu kadang terjadi sesama nelayan lokal. Kadang dengan kabupaten tetangga Pagatan, Tanah Bumbu. Kadang dengan orang luar Kalimantan. Bahkan dengan perusahaan tambang yang masuk ke perairan mereka.
Puncaknya pernah terjadi tahun 2023. Saat kapal-kapal cantrang dari Jawa masuk. Nelayan lokal murka. Mereka merasa ekosistem rusak, alat tangkap mereka hancur. Emosi meledak. Kapal cantrang milik nelayan Jawa Tengah pun dibakar.
Situasi serupa juga pernah terjadi antara nelayan dari Kecamatan Kelumpang Selatan dengan nelayan dari Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu.
Untung cepat ditangani. Polairud dan Lanal Kotabaru segera turun tangan. Mediasi dilakukan. Api besar bisa dipadamkan, walau bara selalu ada.
“Setiap tahun pasti ada konflik nelayan di Kotabaru,” kata Hamdani, Ketua Ikatan Nelayan Saijaan. “Banyaknya nelayan membuat rawan salah paham,” tambahnya. Namanya di laut, siapa duluan yang dapat, siapa yang merasa dilanggar.
Di atas kertas, laut Kotabaru adalah anugerah. Tapi di bawahnya, selalu tersimpan bara.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief