Ada satu lagi kue tradisional khas Banua yang wajib dicoba. Namanya pupudak. Bentuknya lonjong terbungkus daun pisang.
Pupudak termasuk dalam kategori kue basah tradisional khas Banjar. Berbahan dasar tepung beras dan tapioka.
Pengolahan kue ini sederhana. Pertama, rebus santan, gula aren dan garam. Pastikan hingga mendidih. Lantas seimbangkan rasa manis dan gurihnya.
Diamkan rebusan santan dan gula itu hingga dingin. Sementara itu, campurkan tepung beras, tapioca, dan sedikit kapur sirih dalam sebuah wadah. Masukan perlahan air santan gula tadi, lalu aduk hingga adonan tercampur rata.
Pedagang kue tradisional khas Banjar, Ria mengatakan adonan pastikan tidak terlalu cair atau terlalu kental. "Sedang-sedang saja, agar mudah dibungkus," ujarnya.
Apabila adonan sudah siap, saatnya ke tahap pengemasan. Siapkan daun pisang dan lidi. Tuangkan beberapa sendok adonan dan gulung daun. "Gulung hingga berbentuk memanjang silinder, dan kunci kedua ujungnya memakai lidi atau staples jika ingin lebih praktis," terangnya.
Lakukan berulang hingga adonan habis. Kukus pada panci bersaringan. Lama pengukusan tergantung pada banyaknya susunan bungkus kue yang tertumpuk. "Biasanya berkisar antara 20-30 menit," ujar Ria.
Setelah warna daun pisang berubah layu dan kecokelatan, kue pupudak bisa diangkat dan didinginkan. "Apabila sudah hangat atau dingin, kue ini siap dinikmati," tambahnya.
Pupudak bisa dikonsumsi kapan saja, terutama saat sarapan pagi. Kue ini masih mudah dijumpai di berbagai lapak pedagang kue tradisional. Harganya berkisar Rp1.000-Rp2.000 saja.
Kue ini juga cukup populer hingga ke provinsi tetangga seperti Kalimantan Tengah dan Timur dengan nama lain yakni wadai pampudak atau sunduk lawang.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief