Di jantung Pegunungan Meratus, ada sebuah nama yang sejak dulu bergaung dengan melimpahnya kandungan emas. Paramasan. Tanah ini dulu jadi rebutan kerajaan, kolonial, hingga para penambang.
Kini, kejayaan tambang emas Anak Radja hanya tinggal legenda. Tapi, kisahnya masih mengalir di ingatan orang Meratus.
Nama Paramasan dari cerita rakyat Dayak Meratus, yang menyebut wilayah ini sebagai ‘tanah emas’.
Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Mansyur menjelaskan nama Paramasan diyakini gabungan kata par (emas) dan amas-an (tempat emas). “Legenda setempat bercerita tentang dua bersaudara yang menebang pohon ulin di dekat air terjun. Potongan kayu itu berubah menjadi serpihan emas yang terbawa arus hingga ke hilir,” tuturnya.
Selain legenda rakyat, sejarah tertulis juga menegaskan reputasi Paramasan sebagai penghasil emas sejak masa Kesultanan Banjar. Dokumen kolonial Belanda bertanggal 12 Oktober 1909 berjudul Beschrijving van het Landschap Peramasan mencatat, bahwa wilayah ini dikenal sebagai ‘tanah tempat menemukan emas’ dengan luas mencapai 5.000 hektare.
Dalam catatan sejarah, nama Paramasan tak bisa dipisahkan dari Tambang Anak Radja. Sebuah lokasi tambang emas legendaris yang menjadi simbol kejayaan Kesultanan Banjar.
Emas dari tambang ini, jelas Mansyur, dulu menjadi sumber pemasukan penting kerajaan. Bahkan menjadi kekuatan ekonomi Banjar. “Para Tumenggung di Paramasan berada di bawah pengawasan Lelawangan di Kandangan, yang memungut pajak emas untuk pejabat apanase kerajaan, termasuk Pangeran Hidayat,” kata Mansyur.
Letak tambang yang tersembunyi di tengah pegunungan menjadikan Anak Radja aset strategis. “Tidak hanya memperkaya kerajaan, emasnya juga menarik perhatian kolonial Belanda untuk menguasai wilayah Paramasan,” sebut Mansyur.
Markas Perang Banjar
Paramasan juga punya peran vital dalam Perang Banjar (1859–1863). Di masa itu, Pangeran Hidayatullah sempat bermukim di wilayah ini.
Bahkan Demang Lehman menjadikan Paramasan Atas markas gerilya, dibantu tokoh Bukit seperti Buko Daut, Dulah, dan Pu Said yang menguasai jalur pegunungan. “Medan Meratus memberi keuntungan taktis bagi para pejuang dalam mengadang patroli kolonial,” ujar Mansyur.
Kini, Paramasan resmi berdiri sebagai kecamatan dengan empat desa, yakni Paramasan Atas, Paramasan Bawah, Angkipih, dan Remo.
Meski tambang emasnya tinggal cerita, kata Mansyur, identitas Paramasan tetap hidup sebagai bagian sejarah Kalimantan Selatan dan kebanggaan Dayak Meratus. “Nama Paramasan adalah simbol sekaligus pengingat bahwa Meratus bukan sekadar bentang alam. Tapi panggung sejarah emas yang pernah berkilau,” pungkasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief