Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Asal-usul Nama Desa Liang Anggang, Dulu Sepi Sekarang jadi Wilayah Multietnis

Norsalim Yahya • Rabu, 20 Agustus 2025 | 07:48 WIB

 

BERKEMBANG: Kantor Desa Liang Anggang, Kecamatan Bati-Bati yang berada di poros Jalan A Yani.
BERKEMBANG: Kantor Desa Liang Anggang, Kecamatan Bati-Bati yang berada di poros Jalan A Yani.

Di tengah lalu lintas jalan provinsi yang membelah wilayahnya, Desa Liang Anggang, Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut (Tala) menyimpan kisah panjang tentang asal-usul namanya. Di balik posisi strategisnya, desa ini menyimpan cerita tentang satwa endemik yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan warganya.

Kepala Desa Liang Anggang, Sukiman menceritakan bahwa nama “Liang Anggang” erat kaitannya dengan burung enggang. Dulu, burung besar berparuh indah itu memang banyak di sana. Terbang rendah. Bersarang. Hingga jadi penanda kawasan.

Kata liang berarti tempat. Sedangkan anggang berarti burung enggang. Jadi artinya tempat burung enggang. “Seiring berjalannya waktu, burung itu sudah meninggalkan desa ini. Meski begitu, masyarakat tetap mengenangnya sebagai nama Desa Liang Anggang.,” ujarnya.

Sejarah permukiman warga desa juga tidak bisa dipisahkan dari Kampung Suasi yang berada di desa tersebut. Kampung inilah yang menjadi cikal bakal penduduk asli Liang Anggang.

“Awalnya, mereka bermukim di sana, bercocok tanam, berladang, dan berkebun di lahan yang masih sepi dan nyaman. Namun, perlahan, masyarakat mulai merapat ke jalan provinsi yang kemudian menjadi jalur utama hingga kini,” jelasnya.

Liang Anggang pun berubah dari desa sunyi, jadi desa strategis.

Kini, Desa Liang Anggang telah berkembang menjadi kawasan multietnis. Aktivitas industri tumbuh di berbagai sudut wilayahnya. Tapi, di balik hiruk pikuk itu, ada tradisi lama yang masih bertahan.

Pembuatan purun. Kerajinan anyaman dari tanaman rawa yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi. Dianyam jadi tikar, keranjang, tas. Warisan dari leluhur yang tak mau hilang ditelan pabrik.

“Aktivitas ini masih mudah ditemui, menjadi penanda kuat identitas budaya masyarakat setempat,” ucapnya.

Sebagai simbol kebanggaan, pemerintah desa bahkan menjadikan burung enggang sebagai ikon dalam logo Desa Liang Anggang.

“Kehadiran simbol itu bukan hanya untuk menghormati sejarah. Melainkan juga sebagai pengingat akan jejak satwa yang pernah menjadi penghuni tetap di kawasan ini,” tuntasnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#asal usul #Tanah Laut #Enggang #Desa