Salah satu kelurahan di Kecamatan Murung Pudak Kabupaten Tabalong ada yang bernama Pembataan. Nama itu disematkan karena dulu merupakan kawasan pembuatan batu bata. Ada ratusan orang perajin bata merah yang melakoni profesi tersebut hingga sekarang.
Lurah Pembataan, Muhamad Rijani mengatakan nama Pembataan sejak dulu sudah ada, dan tidak diketahui siapa yang menetapkan pertama kali. "Kalau ada orang bilang tempat ini Pembataan, karena banyak pembuat batu bata," katanya.
Ratusan perajin bahan bangunan dari bahan tanah liat itu cukup terkenal hingga keluar daerah. Mereka melakukannya dengan cara tradisional. Menggali tanah liat, mencetaknya menjadi persegi, lalu dibakar. "Peninggalannya masih ada. Bisa dilihat lubang-lubang galian di sekitar Harung sampai ke stadion di Peramaian," ujarnya.
Rijani mengakui para perajin bata merah bukanlah warga asli Tabalong. Namun, warga dari daerah lain ini menetap di Pembataan. "Banyak dari Berabai," sebutnya.
Sekarang perajin bata di Pembataan mulai berkurang. Sebagian sisanya hanya berada di kawasan kampung Harung. Paling tidak ada sebanyak 20 orang.
Walau dulu produk Pembataan diprimadonakan, persaingan dagang dengan batako atau bata dari bahan campuran semen dan pasir menjadi masalah sekarang.
Dalam perjalanannya, Kabupaten Tabalong terus berkembang pesat. Pembataan yang sebelumnya desa, telah ditetapkan sebagai kelurahan.
Kawasan Pembataan berlokasi di wilayah perkotaan. Bahkan, kompleks rumah bupati Tabalong berada ada di dalamnya. "Penduduknya sekarang ada sekitar sembilan ribu jiwa, dengan luasan kawasan mencapai tiga kilometer persegi," jelasnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief