Tahulah pian, di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), ada berbagai jenis kesenian tradisional. Salah satunya adalah Baandi-Andi. Syair yang disampaikan dengan berirama.
Pemerhati budaya HSS, Dedy Wahyuni mengatakan Baandi-Andi ini biasanya dilakukan saat warga pegunungan dari Suku Dayak Meratus akan memanen padi. “Baandi-Andi ini merupakan hiburan orang bahari,” ujarnya.
Setiap daerah Hulu Sungai, saat melakukan Beandi-Andi ada versinya masing-masing. “Khusus di wilayah Kabupaten HSS, perbedaan Baandi-Andinya dibawakan dengan berirama atau ada intonasinya,” katanya.
Saat melakukan Baandi-Andi juga diiringi dengan alat musik tradisional dari bambu. “Alat musiknya bisa dipukul serta dihentakkan,” sebutnya.
Alat musik dari bambu yang digunakan saat Baandi-Andi tidak berbentuk alat musik pada umumnya. “Bambunya seadanya. Tapi, diatur supaya mengeluarkan irama sesuai dengan syair yang disampaikan,” ucapnya.
Baandi-Andi ini bisa dilakukan satu orang, sampai beberapa orang yang sudah berusia remaja atau dewasa sampai orang tua. Baik laki-laki atau perempuan. “Isi Baandi-Andi bisa mengandung pantun, nasihat, kepahlawan, sampai cerita rakyat,” tutur Dedy.
Di zaman sekarang Baandi-Andi tidak hanya dilakukan saat akan panen padi saja. Tapi bisa dipentaskan. Kesenian dan alat musiknya tidak hanya dari bambu saja. “Kalau dipentaskan alat musiknya bisa dikolaborasikan dengan alat pukul sampai alat petik,” sebutnya.
Sekitar tahun 90-an, Baandi-Andi untuk panen padi tidak hanya dilakukan warga di wilayah pegunungan saja. Tapi, juga dilakukan warga di wilayah Kandangan. “Sekarang sudah jarang. Warga yang melakukan Baandi-Andi saat panen padi paling wilayah Loksado,” bandingnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief