Tahulah pian bahwa salah satu desa tertua di Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut adalah Desa Asam-Asam. Wilayah seluas sekitar 5.475 hektare ini menyimpan banyak kisah sejarah yang menarik. Bahkan, menjadi salah satu sentra kerajinan tradisional khas Kalsel.
Secara geografis, Desa Asam-Asam berada di lokasi yang cukup strategis. Di sebelah utara, desa ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjar. Sebelah selatan dengan Desa Muara Asam-Asam. Sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Desa Simpang Empat Sungai Baru. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Jorong, Desa Batalang, serta Kecamatan Batu Ampar.
Salah satu ciri khas desa ini adalah keberadaan sungai besar yang mengalir menuju Laut Jawa, yang menjadikan sebagian permukiman penduduk berada di sekitar bantaran sungai.
Namun, siapa sangka, sejarah lahirnya Desa Asam-Asam justru bermula dari bencana. Kepala Desa Asam-Asam, Abdul Muhid menuturkan bahwa dulunya kawasan ini rawan banjir. “Dahulu, di bagian utara desa terdapat sebuah kawasan bernama Desa Belawang. Desa ini rawan terdampak banjir, sehingga masyarakat memilih untuk berpindah ke dataran yang lebih tinggi,” katanya.
Inisiatif ini dipelopori oleh seorang ulama kharismatik, KH Marhalid Din Darabu bin Yusuf, yang kemudian dikenal sebagai tokoh pendiri desa. “Beliau tidak hanya memimpin masyarakat membangun permukiman, tetapi juga mendirikan masjid dan sekolah rakyat di sini,” ungkapnya.
Masjid yang dibangun oleh KH Marhalid kini berdiri megah dengan nama Masjid Darul Hasyim. Sebagai bentuk penghormatan, nama pendiri desa ini juga diabadikan menjadi salah satu nama jalan di desa tersebut.
Dalam catatan sejarah Banjar, Desa Asam-Asam disebut sebagai “Hasam-Hasam” yang memiliki arti kampung yang panjang dan luas. “Sesuai namanya, Desa Asam-Asam menjadi salah satu wilayah terluas pada masanya. Bahkan, desa ini menjadi induk dari empat desa hasil pemekaran, yaitu Desa Muara Asam-Asam, Asam Jaya, Asri Mulia, dan Simpang Empat Sungai Baru,” sebut Muhid.
Desa Asam-Asam juga terkenal sebagai desa penghasil kerajinan atap dari daun nipah atau rumbia. Warga desa memanfaatkan daun-daun ini menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang telah dikenal hingga ke luar daerah. “Keahlian dalam mengolah daun nipah ini telah menjadi identitas lokal, sehingga Desa Asam-Asam pun dijuluki sebagai Kampung Nipah,” tutupnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief