Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Budaya Basasuluh: Penjajakan Awal Orang Banjar Sebelum Menuju Pernikahan

Jamaludin • Kamis, 17 Juli 2025 | 07:22 WIB
Ilustrasi basasuluh
Ilustrasi basasuluh

Basasuluh dalam budaya Suku Banjar merupakan bagian tak terpisahkan dari proses perjodohan atau penjajakan awal sebelum menuju pernikahan.

Salah satu warga Barabai, Ainah termasuk yang masih melestarikan tradisi ini. Ia membagikan pengalamannya saat keluarga mereka melaksanakan basasuluh untuk anak laki-lakinya.

Menurutnya, pelaksanaan tradisi basasuluh sangat erat kaitannya dengan keputusan keluarga. Ketika anak laki-lakinya ingin menikah, keluarga besar berkumpul dan menyepakati untuk menjodohkannya dengan perempuan pilihan keluarga. Meskipun saat itu, anaknya belum pernah berkenalan dengan sang calon. “Kami sekeluarga sepakat memilih perempuan yang kami anggap baik. Anak saya pun setuju saja dengan keputusan kami, meskipun belum mengenal calonnya,” ujarnya.

Proses basasuluh tidak dilakukan secara sembarangan. Keluarga Ainah terlebih dahulu mempersiapkan berbagai keperluan, termasuk mencari Tatuha (tetua) kampung sebagai perantara.

Selain itu, mereka juga menyiapkan selamatan sebelum berangkat ke rumah pihak perempuan, serta membawa uang sebagai antisipasi jika ditanyakan soal uang jujuran. “Kami masak-masak dulu seperti wadai sari muka lakatan, kikicak, sop, dan wadai cincin. Setelah selamatan, berangkat tanpa membawa anak laki-laki kami. Hanya ayahnya dan Tatuha kampung yang ikut,” kenang Ainah.

Saat perjalanan menuju rumah pihak perempuan, Ainah mengaku diliputi rasa waswas. “Kami khawatir kalau anak kami ditolak. Tapi suami saya meyakinkan, insya Allah diterima,” tuturnya.

Sesampainya di rumah pihak perempuan, mereka disambut dengan ramah. Kedua belah pihak lalu melakukan pembicaraan yang difasilitasi oleh Tatuha kampung masing-masing.

Di situlah ditentukan beberapa hal penting seperti nominal uang jujuran. Pihak perempuan juga menjamu tamu dengan wadai cincin sebagai bentuk penghormatan.

Setelah proses basasuluh selesai dan pihak perempuan menerima lamaran secara adat, barulah si laki-laki dan perempuan mulai berkomunikasi. “Baru setelah itu mereka saling mengenal lewat WhatsApp. Beberapa hari kemudian, anak saya minta ketemu langsung untuk mengenal lebih jauh,” ucap Ainah.

Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi basasuluh mulai tergerus. Kini, banyak pasangan muda lebih memilih mengenal satu sama lain secara langsung melalui media sosial seperti WhatsApp, Instagram, Facebook, atau Telegram tanpa melibatkan keluarga atau Tatuha sebagai perantara. “Tradisi ini bisa saja hilang karena generasi sekarang lebih memilih hubungan tanpa adat perantara,” tambahnya.

Tradisi basasuluh adalah simbol nilai kekeluargaan, penghormatan, dan kearifan lokal dalam proses penjajakan menuju pernikahan. Meski teknologi memberi kemudahan, peran keluarga dan adat istiadat tetap menjadi warisan budaya yang perlu dijaga agar tidak punah di masa mendatang.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Budaya #Banjar #Tahulah Pian #pernikahan #nikah