Tahulah pian, Jalan S Parman di Banjarmasin menyimpan jejak panjang sejarah kota ini. Pada masa kolonial Belanda, jalan ini dikenal dengan nama Militair Weg atau “Jalan Militer". Sebab kawasan ini dulunya merupakan wilayah militer penting, lengkap dengan fasilitas-fasilitas penunjangnya.
Sejarawan dari FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur mengungkapkan sebelum berganti nama menjadi Jalan S Parman, ruas ini lebih dulu dikenal sebagai Jalan Kalimantan. Letaknya strategis, berdiri di atas jalur sepanjang 1,35 kilometer yang dulunya menjadi rumah bagi tangsi militer Belanda—sekarang berubah fungsi menjadi Markas Polresta Banjarmasin—dan rumah sakit umum Zieken Huis, yang kemudian dipindahkan ke Jalan Ulin dan menjadi Rumah Sakit Ulin seperti sekarang.
Tak hanya itu, jalan ini juga menjadi akses menuju permukiman Belanda di kawasan Amerong dan terhubung dengan Jalan Jenderal Sudirman yang dulunya bernama Karel van den Heijden, serta Jalan Lambung Mangkurat yang dahulu dikenal sebagai Laan de Resident de Hans.
Struktur kawasan ini dirancang dengan pola yang khas. Memiliki dua simpang utama. Simpang pertama dikenal sebagai Militair Weg 1 yang kini menjadi Gang Karimata. Sedangkan simpang kedua, Militair Weg 2, berubah nama menjadi Jalan Andalas atau Jalan Perintis Kemerdekaan yang mengarah ke simpang empat Pasar Lama.
Perubahan wajah kawasan ini dapat ditelusuri lewat foto-foto lama. Salah satunya koleksi KITLV tahun 1898 berjudul Militair Weg te Bandjermasin. "Dalam gambar itu terlihat jalan yang masih sepi, rindang dengan deretan pepohonan. Namun seiring waktu, area ini berubah drastis menjadi deretan toko, perkantoran, hingga rumah ibadah. Dalam kurun lebih dari satu abad, wajah Militair Weg menjelma menjadi pusat aktivitas kota," papar Mansyur.
Nama-nama jalan di era kolonial juga memiliki sistematika tersendiri. Jalan yang disebut boulevard umumnya memiliki jalur hijau di tengah. Laan merujuk pada jalan penghubung antara kawasan ramai. Sedangkan straat menunjukkan jalan yang padat dengan kegiatan bisnis dan perdagangan.
Adapun istilah weg, seperti dalam Militair Weg, merujuk pada jalan di kawasan permukiman yang pada prinsipnya tidak diperbolehkan untuk aktivitas perdagangan. "Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya memang diperuntukkan sebagai zona hunian dan militer," tuturnya.
Dalam buku Sedjarah Kota Bandjermasin terbitan 1970 karya Arthum Artha, disebutkan bahwa Jalan Kalimantan merupakan salah satu jalan utama kota, selain Jalan Lambung Mangkurat, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Pangeran Samudera, dan Jalan Pangeran Antasari. Arthum, yang juga merupakan mantan Ketua DPRD Kotamadya Banjarmasin dan seorang wartawan era perjuangan, menulis bahwa status Jalan Kalimantan atau Militair Weg setara dengan Jalan Belitung (Blitung Weg).
Saat itu, Banjarmasin baru saja naik status dari keresidenan menjadi gemeente (kotamadya), dan tak lama kemudian menjadi bagian dari Provinsi Borneo.
Namun babak sejarah jalan ini tidak berhenti di era Belanda. Pada 8 Februari 1942, pasukan Jepang mendarat di Banjarmasin dan pemerintahan sipil maupun militer Belanda pun meninggalkan kota. Masa pendudukan Jepang membawa perubahan baru, termasuk berdirinya kantor-kantor pemerintahan seperti Borneo Minshibu, Banjarmasinshi Shitju, Bunking Kanrekan, dan Toyo Menka Kabushiki Kaisah. Hiburan-hiburan untuk pasukan Jepang juga mulai bermunculan.
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dalam Perang Asia Raya, Banjarmasin diserahkan ke Tentara Australia yang datang bersama NICA Belanda. Namun akhirnya, ketika Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, satu demi satu nama jalan berganti—meninggalkan jejak kolonial dan menyambut nama-nama baru pahlawan nasional, seperti S Parman
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief