Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tahulah Pian: Layangan Bukan Sekadar Hiburan, Tapi Bagian Warisan Budaya yang Harus Dijaga

M Idris Jian Sidik • Selasa, 8 Juli 2025 | 08:06 WIB
  1.  
MUSIMAN: Layang-layang sudah lama bagian dari warisan budaya Banua.
MUSIMAN: Layang-layang sudah lama bagian dari warisan budaya Banua.

Saat musim angin timur bertiup, langit Kalimantan Selatan kembali dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari. Bagi sebagian warga Banua, terutama di daerah pesisir dan pedesaan, bermain layang-layang bukan sekadar hiburan. Melainkan bagian dari warisan budaya yang terus dijaga.

Layang-layang telah dikenal masyarakat Banjar sejak zaman dahulu. Terutama dimainkan di persawahan, ladang, dan bantaran sungai. Dulu, anak-anak membuat layangan dari bambu, kertas minyak, dan benang yang dipintal sendiri. Mereka bersaing adu tinggi di udara. Kadang juga saling menjatuhkan layangan lawan lewat “adu benang”.

Kabid Pembudayaan Olahraga Dispora Kalimantan Selatan, Budiono menjelaskan budaya bermain layang-layang di Kalsel telah ada sejak generasi kakek-nenek dulu. Jauh sebelum televisi dan gadget hadir. “Layang-layang adalah olahraga rakyat yang sudah menjadi bagian dari tradisi di banyak daerah Banua. Selain menghibur, ini juga melatih kreativitas, kesabaran, dan kerja sama,” ungkap Budiono, Senin (7/7/2025).

Lomba layangan mulai dikenal secara lebih luas di Kalsel sekitar tahun 1980-an. Terutama di momen-momen besar seperti perayaan HUT RI atau kegiatan lainnya. Warga mulai mengembangkan kategori lomba. Seperti: layang-layang hias (berbentuk naga, burung, kapal, hingga tokoh pewayangan), layang adu benang, layang bersuara (dengan tambahan pita atau alat penggetar), hingga layang tinggi stabil.

Kegiatan ini biasanya diselenggarakan oleh pemuda desa, karang taruna, hingga komunitas masyarakat. Ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi warga antar kampung. “Di beberapa daerah seperti Tanah Laut, Barito Kuala, dan Hulu Sungai, lomba layangan jadi event tahunan. Bahkan ada yang melibatkan ratusan peserta lintas generasi,” ujar Budiono.

Menurutnya, layang-layang tidak hanya punya nilai budaya, tapi juga bisa masuk dalam pembinaan olahraga rekreasi. Saat ini, Dispora Kalsel tengah membuka ruang bagi komunitas layangan untuk didukung secara berkelanjutan. “Layang-layang bisa masuk sebagai bagian dari pembudayaan olahraga tradisional dan rekreatif. Kita berharap ke depan ada festival layang tingkat provinsi atau antar sekolah yang rutin,” katanya.

Meski zaman terus berubah, di beberapa sudut Banua seperti Tamban, Takisung, atau sekitar Martapura, anak-anak dan remaja masih terlihat membawa layangan saat sore hari. Bahkan, tak sedikit orang tua yang ikut turun tangan membantu anaknya membuat layangan sendiri.

Bagi mereka, bermain layangan adalah bagian dari masa kecil yang ingin mereka wariskan. “Di langit biru Banua, kita tak hanya melihat selembar kertas terbang. Kita melihat harapan, kreativitas, dan kebersamaan yang tak lekang oleh waktu,” pungkas Budiono.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#Layangan #Tahulah Pian #permainan #tradisional