Siapa yang doyan mencok atau ngerujak? Jika kamu salah satunya, pastikan tak melewatkan bumbu cocolan yang satu ini. Uyah wadi namanya.
Dalam bahasa Banjar, uyah berarti garam. Sedangkan wadi adalah olahan ikan khas kuliner Banjar yang difermentasikan. Jadi, uyah wadi adalah garam dari olahan wadi. “Biasanya diolah dari garam sisa wadi ikan yang disangrai hingga kering,” jelas Misran, pedagang olahan ikan wadi di Martapura Lama.
Uyah wadi biasanya dimanfaatkan masyarakat suku Banjar untuk dijadikan sebagai bumbu rujak. Rasanya tentu berbeda dengan garam rujak pada umumnya yang kuat dengan aroma terasi. “Uyah wadi khas dengan cita rasa ikannya yang kuat. Itu karena bekas tercampur dengan ikan air tawar yang diawetkan,” jelas Misran.
Warna uyah wadi cenderung kekuningan, berasal dari ekstrak kunyit yang dihaluskan. Rasanya tentu asin, gurih dan khas. “Pengolahannya sangat sederhana, garam sisa wadi tadi disangrai hingga kering. Jika ingin menambah aroma, cukup tambahkan sereh geprek saat menyangrai,” terangnya.
Uyah wadi masih sangat mudah dicari. Kerap dijumpai di pasar-pasar tradisional, kawasan wisata religi yang menjual oleh-oleh khas, dan bahkan di e-commerce. “Harga jualnya murah meriah. Mulai dari Rp2.000 hingga Rp5.000 per kemasan,” sebut Misran.
Garam rujak ini sangat nikmat dikonsumsi dengan semangka, nanas, pisang mentah, mangga muda dan sebagainya. Selain diburu oleh pencinta rujak, uyah wadi juga kerap dicari oleh para wanita hamil muda yang mengidam.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief