Tak banyak yang tahu, sebelum bangunan Puskesmas Banjarbaru Selatan berdiri megah seperti sekarang, di lokasi itu dulu pernah berdiri sebuah bioskop legendaris. Namanya Sederhana Theater. Inilah bioskop pertama yang memberi warna hiburan layar lebar di Kota Idaman.
Bioskop yang dibangun sekitar 1961 itu bukan sembarang bangunan. Perancangnya adalah Van der Pijl, sosok arsitek tata Kota Banjarbaru, yang juga menjadi otak di balik konsep awal pengembangan kota ini. Menariknya lagi, pengelolaan bioskop itu juga berada di tangan keluarga Van der Pijl sendiri.
Kisah tentang keberadaan bioskop ini masih lekat dalam ingatan Hasbullah, tokoh masyarakat yang akrab disapa Om Aboel. Ia menjadi salah satu saksi mata sejarah hidup bioskop pertama di Banjarbaru itu. “Waktu saya kelas 3 SD, bioskop itu sudah ada. Namanya Bioskop Sederhana,” kenang Om Aboel, beberapa waktu lalu.
Lokasinya berada di dalam area Pasar Bauntung lama. Tepat di bagian dalam yang kemudian menjadi deretan kios pedagang, menghadap langsung ke area los ikan. Tak heran, setiap kali layar mulai dibentang, deretan kursi kayu di dalam bioskop itu penuh sesak oleh warga dari berbagai penjuru. Film-film koboi ala Django, Sartana, hingga aksi-aksi para cowboy Hollywood jadi suguhan favorit penonton. “Ramai sekali waktu itu. Penontonnya banyak dari berbagai tempat,” ujar Om Aboel.
Selain film barat, Sederhana Theater juga menyajikan tontonan film Indonesia. Nama-nama besar seperti Rhoma Irama, Widyawati, hingga Yenny Rachman sempat hadir di layar lebar bioskop itu.
Meski sederhana, secara fasilitas tak kalah dengan bioskop pada umumnya. Bahkan suasana di dalam bioskop sudah menyerupai bioskop modern. Ada deretan kursi, layar besar, dan tata suara yang cukup mumpuni di masanya.
Memasuki akhir 1970-an, sejarah Sederhana Theater memasuki babak baru. Bioskop itu diambil alih oleh TNI Angkatan Udara (saat itu masih bernama AURI), dan berganti nama menjadi Dirgantara Theater.
Memasuki era 1990-an, Dirgantara Theater kembali berpindah tangan. Kali ini ke pihak swasta. Namun sayangnya geliat bioskop ini perlahan meredup. Munculnya bioskop-bioskop besar di kota lain membuat pamornya makin tenggelam. “Terakhir-terakhir itu ya sudah mulai sepi. Sampai akhirnya tutup,” kata Om Aboel.
Jejak fisik bioskop pun ikut hilang. Kursi, layar, dan peralatan lainnya tak lagi diketahui keberadaannya. Yang tersisa kini hanya cerita dari para saksi sejarah dan dokumentasi lama, yang tersimpan rapi di Depo Arsip milik Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Darpusda) Banjarbaru.
Saat ini, di atas lahan bekas Sederhana Theater dan Dirgantara Theater, berdiri kokoh Puskesmas Banjarbaru Selatan. Bangunan itu diresmikan pada 2 Februari 2025 lalu.
Meski sudah berganti rupa, sejarah Sederhana Theater tetap jadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan panjang Kota Banjarbaru. Jejak karya Van der Pijl ini menjadi pengingat, bahwa di titik itu warga Banjarbaru dulu pernah antre demi sebuah tiket nonton film koboi.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief