Di balik kemilau kain sasirangan yang kini mendunia, ada warisan leluhur Banjar lain yang nyaris tenggelam. Kain tenun tradisional Sarigading.
Tak banyak yang tahu, jauh sebelum sasirangan menjadi ikon, nenek moyang urang Banjar telah lebih dulu akrab dengan pekerjaan memintal dan menenun.
Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur, menyebut aktivitas menenun ini sudah dikenal sejak masa Kerajaan Negara Dipa di Amuntai, sekitar abad ke-16. “Tertulis dalam naskah Tutur Candi, pekerjaan menenun dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sandang masyarakat,” jelas Mansyur.
Perkembangannya ditopang budi daya kapas di wilayah Banua Lima. Hindia Belanda tahun 1862 mencatat, masyarakat Amuntai menanam kapas dan memproduksi sendiri kainnya.
Bahkan, sarung belau dari kapas asli Amuntai dihargai hingga f 2,20. Sedangkan kain gingham buatan lokal bisa menembus harga f 5.
Namun, kejayaan tenun Banjar mulai meredup memasuki abad ke-20. Produk tekstil buatan mesin dari Belanda dan Jawa mengambil alih pasar. Karena tergerus, profesi menenun ditinggalkan. Masyarakat Banjar pun beralih menjadi konsumen tekstil impor. “Sebagian perajin kemudian beralih ke kerajinan tangan seperti menganyam, membuat tanggui, atau mencelup kain. Aktivitas menenun akhirnya secara perlahan hilang,” katanya.
Kain tenun lokal sempat bangkit kembali pada masa penjajahan Jepang. Karena pada masa pemerintahan yang dikenal dengan sebutan Negeri Matahari Terbit itu melarang memakai kain impor.
“Kain Sarigading dipercaya memiliki kekuatan magis untuk mengobati penyakit. Maka produksinya dibangkitkan kembali, khususnya di Sungai Tabukan, Hulu Sungai Utara,” ujarnya.
Kain ini dikenal dengan beragam nama, seperti sarigading laki, sarigading bini, pungling, ramak sahang, hingga wadi waringin. Tiap corak dibuat berdasarkan permintaan khusus, dan dipercaya sesuai dengan jenis penyakit yang diderita. “Yang bisa menenun kain ini biasanya orang-orang pilihan, karena harus tahu aturan dan tatakrama spiritualnya,” jelasnya.
Kini, di tengah gempuran mode dan industri modern, kain tenun tradisional Banjar justru mendapat tempat dalam dunia pengobatan alternatif. Di Banjarmasin, permintaan akan kain pipintan (sebutan lain kain tenun magis ini) masih ada, walau langka. “Mereka memesannya langsung ke Sungai Tabukan. Di luar itu, nyaris tak ada lagi perajin tenun Sarigading,” tutup Mansyur.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief