Mereka bukan pendatang biasa, tapi utusan resmi Sultan Banjar, Muhammad Seman bin Pangeran Antasari.
Permintaan itu datang langsung dari Sultan Serdang kelima, Sultan Sulaiman Shariful Alamshah, yang saat itu ingin meningkatkan produksi pertanian di wilayahnya.
Kisah ini terekam dalam arsip resmi Kesultanan Serdang yang ditulis oleh Dr. Tengku Mira Sinar, sejarawan dan zuriat kesultanan.
Dalam catatannya, para ahli pertanian Banjar itu dipimpin oleh Haji Mas Demang, seorang tokoh ulama sekaligus praktisi pertanian.
Beliau tak hanya memimpin teknis pengelolaan sawah, tapi juga dipercaya menjabat sebagai Mufti Kesultanan Serdang.
Para petani Banjar ini menerapkan sistem bagi hasil dalam mengelola bendang (persawahan).
Hasilnya, produktivitas pertanian meningkat dan kehidupan masyarakat lebih sejahtera. Ini menjadi bukti nyata kontribusi Banjar dalam pembangunan kerajaan lain di Nusantara.
Yang luar biasa, pengiriman ini dilakukan di tengah Perang Banjar melawan Belanda. Namun Sultan Muhammad Seman tetap berinisiatif menjaga hubungan antarkerajaan, termasuk dengan Serdang, Brunei, dan bahkan Sir James Brooke di Kalimantan Utara.
“Meski dalam kondisi perang, Sultan Banjar tetap menjalin hubungan baik dengan kesultanan lain. Ini menunjukkan kedaulatan dan semangat persaudaraan antar kerajaan,” tutur Raja Banjar saat ini, Sultan Haji Khairul Saleh Al Mu’tashim Billah, Sabtu (28/6/2025).
Dari jejak itulah lahir komunitas Banjar di Sumatera Utara. Kini, keturunan mereka tersebar di Kabupaten Serdang Bedagai dan Langkat.
Data zuriat Banjar tahun 2013 mencatat jumlah mereka sudah mencapai sekitar 400 ribu jiwa.
Tak sedikit dari mereka yang jadi tokoh penting. Menjadi pejuang, ulama, hingga petinggi kerajaan di Semenanjung Melayu seperti Selangor dan Johor.
"Silaturahmi dua kesultanan pun terus terjaga hingga kini," tandas Sultan.
Editor : M. Ramli Arisno