Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Gugurnya 23 Pejuang

Jamaluddin Radar Banjarmasin • Kamis, 19 Juni 2025 | 09:12 WIB

 

MAKAM: Tabur bunga di kuburan 23 pejuang di Makam Pejuang Kambat Selatan.
MAKAM: Tabur bunga di kuburan 23 pejuang di Makam Pejuang Kambat Selatan.

Tahulah Pian? Di Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah terdapat kisah gugurnya 23 pejuang dalam serangan yang dilakukan Belanda.

Serangan itu berawal pada 12 Juni 1949 di masa revolusi fisik. Ada 90 pemuda dengan semangat juang tinggi bergerilya hanya membawa bungkul (parang khas Kalimantan Selatan).

Pasukan ini dikomandoi oleh Salimi. Bermarkas di Desa Mahang dengan kode markas Z-61.

Mereka menembus hutan melewati Desa Buluan. Dalam upaya penyerangan ke pos militer Belanda. Dari 90 pejuang itu terdapat 13 pejuang berjuluk pasukan alam gaib dan zikir dari Alabio dipimpin oleh Haji Abdul Kadir.

Sasaran mereka adalah pos militer Belanda yang berada di Desa Jatuh.

Selama perjalanan, mereka bertemu dengan beberapa masyarakat yang ingin ikut bertempur melawan penjajah, sehingga kekuatan para pejuang bertambah menjadi 150-an orang.

Sayangnya, upaya penyerangan ini tak membuahkan hasil. Pos militer Belanda kosong. Rupanya rencana para pejuang telah dibocorkan oleh komplotan warga lokal berjuluk kucing hitam yang menjadi mata-mata Belanda. Komplotan ini dipimpin oleh Hasyim.

Pasukan kucing hitam merupakan kelompok pribumi yang dibayar Belanda untuk menjadi mata dan telinga mereka. Pasukan itu seringkali meresahkan masyarakat, karena menangkap, menyiksa dan menghancurkan rumah para pejuang.

Karena pos militer Belanda kosong, para pejuang memutuskan kembali ke markas dengan menyusuri hutan pada malam hari.

Namum ternyata pihak Belanda telah menyiapkan strategi yang matang, mereka bersiap untuk mengepung pejuang dari segala penjuru, berbekal informasi dari pasukan kucing hitam dan mengatur posisi untuk bersembunyi.

Sesampainya para pejuang di simpang empat Kambat Selatan, mereka dikejutkan berondongan tembakan. Merasa terkepung, sebagian pejuang itu berhamburan tak tentu arah dan mereka yang terlatih langsung tiarap.

Desing peluru melesat tak beraturan, menghujani para pejuang. Masyarakat yang ikut berjuang, namun belum terlatih berlarian ke sana kemari.

Dari cerita mulut ke mulut disampaikan bahwa di saat situasi genting itu Haji Abdul Kadir mengambil alih pasukan dengan menancapkan bendera di empat penjuru, agar para pejuang bisa berlindung dan memimpin zikir.

Pasukan pejuang duduk bersila dengan mulut yang terus merapalkan kalimat tauhid, berserah diri kepada Tuhan agar terlindung dari peluru Belanda.

Anehnya, ribuan peluru itu tak sedikit pun menyentuh para pejuang yang sedang berzikir dan Belanda tidak tahu keberadaan mereka, seakan terlindung dinding. Setiap peluru yang datang ke hadapan mereka nampak jatuh di sekitar bendera.

Malam itu terasa panjang, para pejuang perlahan bergerak senyap dan Belanda akhirnya mundur karena kebingungan dengan kejadian yang mereka alami, tak satu pun bayangan pejuang terlihat oleh mata mereka.

Akibat serangan itu, 23 pejuang yang berasal dari masyarakat biasa gugur terkena tembakan Belanda, kejadian itu masih menyimpan amarah para pejuang.

Kini 23 jasad pejuang itu bersemayam di Makam Pejuang Kambat Selatan, Kecamatan Pandawan, Hulu Sungai Tengah (HST).

Di makam tersebut tertulis nama 23 pejuang yang gugur dalam pertempuran menumpas penjajah. Namun sayang, tulisan nama para pejuang itu sudah terkelupas dimakan usia, sehingga beberapa nama tidak dapat terbaca. (mal/yn/ris)

 

 

Editor : Muhammad Rizky
#pahlawan #Tahulah Pian #Sejarah