Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kopiah Jangang: Produk Budaya Banua yang Mau Naik kelas ke Panggung Nasional

Rasidi Fadli • Selasa, 17 Juni 2025 | 07:50 WIB
KHAS: Kopiah Jangang merupakan produk khas Kabupaten Tapin, tepatnya di Margasari.
KHAS: Kopiah Jangang merupakan produk khas Kabupaten Tapin, tepatnya di Margasari.

Tahulah Pian? Ada satu produk budaya Banua yang tengah diikhtiarkan naik kelas ke panggung nasional. Namanya Kopiah Jangang.

Kopiah ini bukan sembarang penutup kepala. Juga bukan sekadar peneduh ubun-ubun, tapi lambang kehormatan, identitas, dan warisan kearifan lokal orang Banjar di Margasari, Kabupaten Tapin.

Sekarang, tim dari Bappelitbang (Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan) Tapin sedang sibuk turun ke lapangan. Mereka menggali sejarah, merunut jejak, dan memastikan satu hal, bahwa kopiah jangang ini memang asli Margasari.

“Cerita perajin, kopiah jangang ini memang turun-temurun. Dari generasi ke generasi, ilmunya diwariskan. Mereka tidak belajar dari buku, tapi dari tangan ibu dan ayahnya,” ujar Mahdiati, Kabid Penelitian dan Pengembangan Bappelitbang Tapin.

Cerita bermula dari orang Margasari yang merantau ke Kalimantan Tengah. Di sana mereka menjumpai akar jangang, tumbuhan merambat yang tumbuh liar di hutan.

Berkat naluri anyam-menganyam yang memang sudah mendarah daging, mereka coba bereksperimen. Hasilnya, lahirlah satu mahakarya anyaman, kopiah jangang.

Kopiah ini dianyam dari akar jangang lapis kedua. Sebelumnya direndam satu malam, lalu dikupas, dibelah, dan dihaluskan menggunakan alat tradisional bernama jangatan—dari kaleng susu atau tutup semir sepatu yang dilubangi dari besar ke kecil. Proses ini makan waktu, butuh ketelatenan, dan kesabaran yang tidak semua orang punya.

“Jangan kira ini kerja gampang. Satu kopiah bisa memakan waktu berhari-hari, semua dikerjakan pakai tangan, tanpa mesin dan bahan kimia,” kata Mahdiati.

Yang paling memikat dari kopiah jangang adalah motifnya, ada motif Terompah, Gelombang, Pagar, Sasirangan, bahkan Bintang. Tiap motif bukan sekadar hiasan. Namun membawa cerita dan filosofi.

Dalam tradisi Banjar, kopiah jangang bukan cuma aksesoris kepala. Namun simbol budaya dan identitas laki-laki Banjar. Dulu, hanya para alim ulama, tokoh masyarakat, dan jawara kuntau yang memakainya. Kopiah ini adalah simbol martabat.

“Kopiah jangang itu bukan sembarang kopiah. Pakai itu, berarti kamu sedang membawa nama baik keluarga dan kampung halaman,” ujar Mahdiati

Kini, di Kecamatan Candi Laras Utara dan Selatan, Tapin, menganyam kopiah jangang jadi pemandangan umum. Teras-teras rumah menjadi tempat produksi. Bahan baku datang dari pengepul, lalu masuk ke tangan-tangan cekatan para perajin.

Kini, perjuangan sedang digencarkan agar Kopiah Jangang bisa diakui sebagai produk Indikasi Geografis (IG) oleh Kementerian Hukum dan HAM. Artinya, kopiah ini akan dilindungi sebagai warisan khas Tapin. Tak bisa sembarangan lagi orang mengklaimnya.

Editor: Sutrisno

Editor : Arief
#Budaya #Tahulah Pian #Tapin #Fashion #Produk #kopiah