Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Wayang Banjar: Berukuran Lebih Kecil Dibanding dari Jawa, Tapi Dengan Iringan Musik Lebih Cepat dan Keras

M Oscar Fraby • Kamis, 5 Juni 2025 | 07:18 WIB
WAYANG BANJAR: Pementasan wayang di Kalsel
WAYANG BANJAR: Pementasan wayang di Kalsel

Kesenian wayang kulit di Indonesia tak hanya ditemui di Pulau Jawa dan daerah lain. Di Kalsel juga ada. Wayang kulit di Kalsel dinamakan Wayang Kulit Banjar.

Berbeda dengan wayang kulit Jawa, ukuran wayang kulit Banjar lebih kecil. Atau lebih mendekati ukuran wayang kulit Bali. Sementara, ritme gamelan yang mengiringi wayang kulit Banjar cenderung cepat dan keras, sehingga berbeda jika dibanding dengan musik gamelan Jawa.

Wayang kulit Banjar juga tidak mengenal waranggana (para wanita yang membantu menyanyikan lagu atau gending) yang ada dalam pementasan wayang kulit di Jawa. Selain itu, gamelan wayang kulit Banjar umumnya terbuat dari besi, berbeda dengan gamelan wayang kulit Jawa yang rata-rata terbuat dari logam perunggu.

Sejarawan Kalsel, Wajidi Amberi mengatakan penonton wayang kulit di Kalsel masih dominan berada di belakang kelir (tenda), sehingga yang mereka tonton adalah bayang-bayang dari wayang tersebut.

Ini berbeda dengan wayang kulit Jawa, yang kebanyakan penontonnya menonton langsung dari atas panggung. “Dalam buku Urang Banjar dan Kebudayaannya (2005) disebutkan bahwa bentuk kesenian wayang di Indonesia berinduk pada kebudayaan asli Jawa, meskipun cerita yang ditampilkan disadur dari pengaruh kebudayaan Hindu,” ujar Wajidi.

Ia mengatakan, bentuk kesenian wayang tertua adalah wayang Purwa. Dari wayang purwa ini berkembang menjadi jenis-jenis wayang di Kalsel. Dalam hikayat Banjar tertulis bahwa seni wayang sudah mulai tumbuh di kerajaan Negara Dipa. Seperti bawayang gung, manopeng, bawayang gadongan, bawayang purwa, babaksan dan sebagainya. “Ini merupakan kesenian yang biasa dipertunjukan di kerajaan Negara Dipa,” paparnya.

Teater wayang kulit Banjar terus berproses dari zaman kerajaan Negara Dipa ke kerajaan di Negara Daha, hingga terbentuknya kerajaan Islam Banjarmasin. Baru dalam masa kerajaan Islam Banjarmasin, kesenian teater wayang kulit Banjar dengan warna lokal mendapat minat yang bagus dari masyarakat Banjar.

Mulanya seni pertunjukan wayang, ada sebagian masyarakat beranggapan bahwa pertunjukan upacara yang lazim disebut Syamanisme. Namun di kemudian hari, wayang dipertunjukkan untuk mengisi upacara manjagai (menunggu pengantin) sesudah upacara perkawinan.

Biasanya pada malam harinya diadakanlah pertunjukan kesenian, seperti Mamanda, termasuk pertunjukan wayang kulit Banjar. “Biasanya acara bajagaan pengantin ini berlangsung selama tiga malam,” ujarnya.

Di masyarakat Banjar dikenal beberapa jenis wayang berdasarkan niat dari pementasannya. Seperti Wayang Karasmin yakni untuk hiburan atau keramaian. Wayang Tahun yang dipentaskan setelah selesai panen padi sebagai tanda syukur. Wayang Tatamba yang diselenggarakan karena sang dalang telah berhasil menyembuhkan sakit seseorang.

Selain itu, ada pula pertunjukkan wayang Banjar yang berkaitan dengan spiritual yakni Wayang Sampir. Pementasan Wayang Sampir terkait dengan hajatan/nazar. Dalam penyajian wayang upacara ini, dalang bertindak sebagai pemimpin upacara memiliki kemampuan dalam mengusir roh-roh jahat yang sering mengganggu ketenteraman manusia. “Untuk mengusir roh jahat tersebut, yang punya hajatan harus menyiapkan sajian. Dimasukkan dalam ancak dan digantungkan di panggung pegelaran wayang,” terangnya.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#seni #Budaya #Banjar #Tahulah Pian #Wayang #Sejarah