Warga Kabupaten Tanah Laut (Tala) yang sering bepergian ke Kota Banjarmasin atau Banjarbaru tentu tak asing dengan wilayah bernama Bati-Bati. Selain menjadi nama salah satu kecamatan, Bati-Bati juga merupakan nama sebuah desa bersejarah di Bumi Tuntung Pandang.
Desa Bati-Bati bahkan tercatat sebagai desa tertua di Kecamatan Bati-Bati. Kepala Desa Bati-Bati, Musmulyadi mengungkapkan bahwa desa ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. "Desa ini sudah ada sebelum terbentuknya Kecamatan Bati-Bati. Bahkan pada tahun 1945, sudah ada kepala desa bernama Kai Gufran," ujarnya.
Desa Bati-Bati memiliki luas wilayah sekitar 1.226 hektare dengan kondisi topografi berupa tanah rawa. Secara geografis, desa ini berbatasan dengan Desa Padang di sebelah utara, Desa Benua Raya di sisi selatan dan barat, serta Desa Martadah di sebelah timur.
Jarak antara pusat kecamatan dengan Desa Bati-Bati hanya sekitar 700 meter. Sementara jarak ke ibu kota Kabupaten Tanah Laut sekitar 25 kilometer.
Musmulyadi menceritakan, dulunya wilayah Desa Bati-Bati merupakan kawasan hutan yang dipenuhi pepohonan keras seperti karamunting, selingsing (rasau), nasi-nasi, dan pohon bati-bati. "Nama desa ini kemungkinan besar diambil dari pohon bati-bati yang tumbuh subur di wilayah ini. Pohon ini memiliki batang keras, daun kecil, dan warna putih susu. Konon buahnya juga sangat lebat," jelasnya.
Karakter masyarakat Desa Bati-Bati dikenal sebagai pekerja keras. Banyak warga yang menggantungkan hidup dari berdagang dan bertani. Selain itu, desa ini juga dikenal sebagai sentra kerajinan alat tangkap ikan tradisional berbahan rotan dan bambu, seperti lukah dan tempirai. "Kerajinan ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, dan bahkan terkenal hingga ke luar daerah," kata Musmulyadi.
Tak hanya itu, Desa Bati-Bati juga terkenal dengan produk olahan kerupuk ikan haruan (gabus). Uniknya, kerupuk ini pernah dibawa oleh jemaah haji sebagai buah tangan ke Tanah Suci. (sal/gr/dye)
Editor : Muhammad Rizky