Masjid Pusaka Benua Lawas di Kabupaten Tabalong memiliki pataka atau puncak masjid bermotif teratai yang merupakan perlambang kesucian dan kekuasan. Namun, lambang itu juga mempunyai arti lain bagi penganut Kaharingan Maayan dan Ngaju, yang berarti penciptaan langit, bumi dan manusia.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tabalong, Hasby menjelaskan berdasarkan rekomendasi tim ahli cagar budaya Kabupaten Tabalong, motif pataka itu juga diakui sebagai pohon hayat. "Pohon hayat melahirkan kesatuan serba dua, sifat jantan dan betina, terang dan gelap, dan sebagainya," jelasnya, Selasa (27/5).
Meski ada yang mengartikan demikian, pataka masjid yang berada di Desa Banua Lawas Kecamatan Benua Lawas tersebut tidak mempunyai makna simbolis, atau tidak perlu dikaitkan dengan pohon Hayat karena hanyalah sebuah model hiasan yang umum digunakan pada waktu itu.
Ketika agama Islam berkembang di daerah itu, konsep pohon Hayat masih dipertahankan dan mengilhami bentuk pataka yang mempunyai makna bahwa itu adalah surga. Yang jelas, pendirian Masjid Pusaka Benua Lawas yang dibangun oleh suku Kaharingan Maanyan yang telah masuk Islam memberikan dampak pada pembangun masjid.
Hal ini menandakan persebaran Islam berlangsung secara damai. Untuk kepentingan dakwah maka keberadaan Islam di tengah masyarakat Maanyan tidak serta merta langsung mengikis kepercayaan lama. Bahkan unsur kepercayaan lama itu diadopsi dalam arsitektur rumah ibadah.
Hasby menegaskan, begitulah kisah pataka buatan khatib Dayan yang dikaitkan dengan pohon Hayat, sehingga menjadi sejarah dan cagar budaya bagi masyarakat Tabalong. Pataka Masjid Pusaka saat ini tidak dipasang di atas masjid. Melainkan dipajang di lemari kaca cagar budaya.
Secara bentuk, memiliki tinggi sekitar 110 sentimeter yang tetap terjaga sejak kayu tahun 1932 lalu. Namun warnanya telah berganti menjadi putih, hijau, biru dan emas.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief