Banyak kesenian di Kabupaten Tapin lahir dan berkembang mulanya di Desa Pandahan, Kecamatan Tapin Tengah. Kesenian yang lahir dan berkembang di desa tersebut yakni Bagandut, Musik Panting, Mamanda, Kuda Gipang, dan Wayang Kulit.
Namun tahulah pian, bagaimana awalnya Desa Pandahan berdiri hingga sekarang? Salah satu warga di sana, Aiman Fadillah menceritakan bahwa tidak ada yang tahu asal nama Desa Pandahan sampai sekarang. “Tapi dari penuturan orang tua di sini, asal nama Pandahan berasal dari kata paandahan, yang berarti singgah sementara,” ucapnya.
Memang diakuinya, bahwa rata-rata kesenian Tapin lahir dan berkembang awalnya di Desa Pandahan. “Sampai saat ini, memang masih ada yang melestarikan beberapa kesenian tersebut,” ucapnya.
Diberitahukannya, desa ini dulunya sangat luas. Namun, terjadi pemekaran yakni terbagi dua, Desa Pandahan dan Desa Pematang Karangan Hilir. “Walaupun namanya Desa Pematang Karangan Hilir, tetapi sampai sekarang masih dikenal dengan sebutan Pandahan,” ucapnya.
Dalam naskah akademik yang tulis oleh M Natsir, Sisva Maryadi dan Maulidi Novianri B berjudul Eksistensi Kesenian Gandut di Kalimantan Selatan juga menerangkan bahwa asal nama Desa Pandahan sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Namun, banyak pendapat yang mengatakan bahwa Pandahan berasal dari kata paandahan yaitu tempat singgah yang bersifat sementara.
Menurut sejarahnya, dahulu banyak orang-orang yang berasal dari daerah lain ikut bertani atau membuka tanah persawahan di daerah ini. Mereka biasanya selama mengerjakan sawah mendirikan pondok sebagai tempat tinggal sementara.
Informasi lainnya menyatakan bahwa daerah Pandahan sebagai daerah persinggahan dari pedagang-pedagang yang berjualan di daerah Margasari. Daerah Margasari dikenal sebagai daerah pelabuhan tempat persinggahan kapal-kapal dagang di daerah selatan Banjarmasin.
Para pedagang zaman dulu ada berangkat dengan berjalan kaki dengan membawa beberapa orang membawa barang dagangan, dan ada juga yang naik pedati. Pedagang-pedagang tersebut menjadikan daerah Pandahan sebagai daerah transit atau pemberhentian sementara dalam perjalanan mereka.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief