Desa Barambai Karya Tani merupakan salah satu desa di Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Kuala. Tahulah pian bahwa desa ini ternyata paling luas di Kecamatan Barambai.
Luas Desa Barambai Karya Tani sekitar 53 kilometer persegi. "Jadi desa kami ini terluas di Kecamatan Barambai," banding BPD Desa Barambai Karya Tani, Sandri, kemarin (13/5).
Sebelum Desa Barambai Karya Tani berdiri, kawasan ini masuk Desa Barambai, Kecamatan Rantau Badauh. Itu sebelum desa dimekarkan menjadi Kecamatan Barambai. "Jadi kampung kami ini dulu masuk Desa Barambai, Kecamatan Rantau Badauh. Tetapi sekarang Desa Barambai dan Barambai Karya Karya Tani ini masuk di Kecamatan Barambai," jelas Sandri, didampingi Kades Desa Barambai Karya Tani H Ardiansyah.
Desanya itu berbatasan dengan desa-desa di Kecamatan Wanaraya, Tabukan, dan Marabahan, bahkan berbatasan dengan Desa Palingkau Kalteng.
Desa ini berdiri pada tahun 1974. "Karena saat itu pertumbuhan dan luas wilayah mencukupi, lalu memisah diri membuat desa sendiri yang dinamakan Desa Barambai Karya Tani," tambahnya.
Sekarang desa ini tumbuh pesat. Ada 6 RT dan 378 kepala keluarga (KK), dan 1.226 jiwa bertempat tinggal yang diapit oleh desa-desa dari transmigrasi. "Desa kami bukan dari transmigrasi. Tetapi penduduk lokal yang diberi lahan," ujarnya.
Berdasarkan cerita orang terdahulu, beberapa wilayah di kecamatan itu mendatangkan transmigrasi dari Pulau Jawa dan Bali antara tahun 1970 hingga 1972. Pemerintah membuka lahan dan membuat saluran air pada saat itu. Nah di ujung saluran pengairan itu masih dipenuhi hutan.
Lantas sejumlah penduduk dari Hulu Sungai seperti dari Barabai (HST) dan Kandangan (HSS), termasuk dari Palingkau (Kalteng) diperbolehkan membuka dan memanfaatkan lahan yang tadinya hutan itu.
Dibentuklah kelompok masyarakat yang diketuai oleh H Anang Ardiansyah atau kerap disapa Haji Gudang lantaran sekarang banyak memiliki gudang padi. "Dulu orang menyebutnya kepala padang, sebutan orang yang mengepalai untuk membuka lahan. Dikepalai oleh H Anang Ardiansyah tadi, warga bergotong royong dengan peralatan seadanya membuat jalan," ceritanya.
Masing-masing masyarakat membuat petak-petak lahan untuk digarap. Seiring itu terbentuklah sebuah permukiman hingga sekarang. "Kampung pertama berada di depan desa, dekat desa tetangga. Nah karena mereka pekerjaannya banyak di sawah, lalu masing-masing membuat rumah untuk mendekati lahan. Semakin pertumbuhan penduduk hingga melebar ke dalam handil ini," ucap Sandri.
Pekerjaan masyarakat di sana hampir semua bertani dan berkebun sawit, mencari ikan, peternak. Hanya ada beberapa penduduk saja yang bekerja swasta.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief