Tahulah Pian, Masjid Baiturrahman termasuk masjid tertua di Margasari. Bahkan, sekarang sudah jadi cagar budaya. Masjid ini terletak di Desa Margasari Hulu, Kecamatan Candi Laras Selatan, atau wilayah pesisir sungai di Kabupaten Tapin.
Namun, tidak ada yang tahu kapan masjid ini dibangun. Diyakini sudah seratus tahun lebih masjid ini dibangun.
Kepala Desa Margasari Hulu, Yuseriadi mengungkapkan bahwa masjid ini memang jadi salah satu simbol sejarah orang Margasari. “Perkiraan umur masjid ini 150 tahun. Untuk pendirinya dari informasi-informasi yang ada yakni dibangun oleh 5 orang,” ucapnya.
Namun bagaimana masjid ini berdiri, diakui kepala desa, bahwa tidak ada yang mengetahui secara pasti. “Memang rata-rata warga di sini tidak ada yang mengetahui bagaimana proses masjid itu dibangun,” jelasnya.
Masjid ini jadi salah satu tempat perkumpulan masyarakat pesisir sungai. Terutama saat dua hari raya yakni Idulfitri dan Iduladha. “Jadi di dermaga masjid ini, banyak kapal-kapal yang bersandar,” tuturnya.
Dari blog Dandunkku tayang Agustus 2013, menuliskan mengenai Masjid Baiturrahman yang bersumber dari tokoh masyarakat. Selain masjid ini sebagai simbol sejarah orang Margasari, juga ada salah satu lagi bangunan bersejarah di Distrik Margasari (dulu) yaitu Sekolah Dasar Negeri Margasari Hilir 1. Dulunya bernama SDN Pusaka Sakti yang dibangun pada tahun 1919 M di masa penjajahan Belanda
Pada awalnya, masjid ini memiliki dua kubah. Namun sekarang, sudah diubah menjadi satu kubah.
Pada tahun 1981, masjid ini direhab untuk keempat kali. Rehab ini ditulis dengan tulisan tangan ditemukan pada salah satu dinding masjid. Lalu tahun berapa rehab pertama, kedua, dan ketiga?
Pada bulan Oktober tahun 2010, Panitia Masjid Baiturrahman kembali merehab dinding bagian depan (imam). Di situ ditemukan sebuah tulisan pada tiang pokok sebelah kiri masjid dengan bentuk ukiran huruf Arab, Jumat 20-05-1334 Hijriah atau sekitar 1913 Masehi.
Bila melihat dari konstruksi bangunan awal, masjid ini memang dibangun pada masa seratus tahun lalu. Lebih tua dari SDN Pusaka Sakti atau gedung sekolah yang dibangun Belanda pada tahun 1919 M, untuk kemudian diteruskan Jepang. Konstruksi olahan bangunan hampir sama, dan itu menunjukkan pola bangunan dalam satu masa di waktu itu.
Tidak ada satu pun ditemukan paku, baut, maupun mur pada tiang-tiang pokok atau penyangga berbahan kayu ulin berukuran besar yang masih kokoh. Belum direnovasi alias masih utuh seperti bentuk semula. Semua tiang pokok dan penyangga terakit hanya dalam bentuk pahatan.
Pada tahun 1969, bangunan bersejarah ini diperingati tokoh-tokoh masyarakat Margasari dalam usia setengah abad.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief