Tahulah pian? Pada tahun 1862, pascapenangkapan Pangeran Hidayatullah, situasi perlawanan di Kalimantan Selatan mengalami dinamika yang kompleks. Salah satu peristiwa menarik terjadi antara Demang Lehman dan Pangeran Aminullah, yang menggambarkan intrik politik dan strategi dalam menghadapi kolonial Belanda.
Pada 24 Maret 1862, bertepatan dengan Hari Raya Idulfitri, Pangeran Aminullah menerima kunjungan seorang utusan dari Martapura. Utusan tersebut membawa pesan dari Demang Lehman yang berada di daerah Mangkauk, Pengaron. Saat itu, Demang Lehman bersama 42 orang membawa 18 pucuk senjata.
Dalam pertemuan, si utusan menyampaikan bahwa Demang Lehman ingin bergabung dengan Pangeran Aminullah dalam melawan Belanda. "Tindakan ini (mengirim utusan, red) menunjukkan sikap hati-hati Demang Lehman yang ingin mengetahui sikap Pangeran Aminullah terlebih dahulu. Jika Aminullah menolak, Demang Lehman berencana pergi ke Hulu Barito," kata Sejarawan UIN Antasari Banjarmasin, Mursalin, Ahad (20/4).
Di sinilah siasat itu bermula terjadi. Pangeran Aminullah mengesankan hubungannya dengan Demang Lehman kurang harmonis. Dalam laporannya kepada kontrolir Belanda di Amandit, Aminullah menggambarkan Demang Lehman sebagai sosok yang khianat dan angkuh. Bahkan, Aminullah menyatakan kesiapannya untuk membantu Belanda menangkap Demang Lehman.
Laporan ini diterima oleh pihak kolonial pada 4 April 1862, setelah Pangeran Aminullah menyerah kepada Belanda.
Di sisi lain, pada 3 April 1862, Demang Lehman juga mengirimkan surat kepada Residen Belanda. Dalam surat itu, ia menantang Belanda untuk menangkap dan membawa Pangeran Aminullah ke Martapura untuk diadili.
Demang Lehman juga menyatakan bahwa ia tidak berniat melawan Pemerintah Belanda, selama mereka tidak memiliki niat buruk terhadapnya. Ia juga menjelaskan bahwa ia meninggalkan Martapura karena jaraknya yang terlalu jauh dan bertujuan ke Hulu Sungai untuk membujuk bubuhan Banjar lainnya agar menyerah, sesuai perintah Verspijck.
Laporan Pangeran Aminullah kepada kontrolir Amandit mendorong Gubernur Verspijck untuk turun tangan. Pada 24 April 1862, Verspijck mengadakan pertemuan dengan Aminullah di Kandangan. Dalam pertemuan itu, disepakati bahwa Demang Lehman tidak layak menerima balasan, baik secara tertulis maupun lisan, atas suratnya tertanggal 3 April.
Tak lama setelah pertemuan itu, Pangeran Aminullah tiba-tiba menghilang secara diam-diam. Belanda merasa telah dipermainkan. Pangeran Aminullah ternyata memainkan sebuah sandiwara.
Menyadari hal itu, Verspijck berusaha melakukan pengejaran dan pengepungan terhadap Aminullah. "Melihat tindak-tanduk Aminullah dan Demang Lehman yang pura-pura menyerah, bisa jadi itu adalah strategi untuk mengecoh Belanda," kata Mursalin.
Asumsi ini semakin kuat dengan adanya isu yang beredar pada tanggal 20 April 1862, Aminullah dan Demang Lehman berlindung di Hulu Barito, jauh dari jangkauan Belanda. Pada bulan Mei dan Juni pasukan Demang Lehman dan Aminullah berangkat dari Paramasan untuk melancarkan serangan terhadap Belanda di Alai dan Amandit.
Namun, setelah Belanda memukul mundur, pasukan tersebut lari ke Batang Pitap di Balangan.
Mereka nampaknya benar-benar hendak menuju ke Hulu Barito. Namun, tentara Belanda di Distrik Tabalong dan Balangan menghalangi pergerakan mereka.
Selama bulan Juni hingga Juli 1862, tampaknya Demang Lehman dan Pangeran Aminullah terus berusaha melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Kali ini, bergerak di daerah Awayan, Gunung Batu, dan Langkap yang berada di bagian timur Paringin. Hadirnya dua orang yang dianggap sebagai berandal itu cukup merepotkan
Belanda. Demang Lehman dan Aminullah terus menyerang diam-diam Belanda yang ada di Balangan.
Informasi tentang pergerakan mereka akhirnya sampai ke telinga Belanda, setelah beberapa orang Dayak yang ditangkap memberikan informasi mengenai lokasi Demang Lehman dan Pangeran Aminullah.
Editor: Syarafuddin
Editor : Arief