Tahulah Pian di tengah maraknya permainan digital, permainan tradisional tetap menjadi warisan budaya yang tak ternilai. Salah satu yang menarik adalah badamprak atau main inting. Permainan anak-anak Banjar ini mengandalkan kelincahan, ketepatan, dan semangat kebersamaan.
Permainan ini sederhana, hanya membutuhkan sebidang tanah dan sebuah batu kecil atau benda lain yang disebut undas, tetapi mengandung banyak nilai penting.
Permainan ini dimulai dengan menggambar kotak-kotak bernomor di atas tanah. Biasanya berjumlah delapan hingga sepuluh kotak, tergantung variasinya. Setiap pemain secara bergantian melempar undas ke dalam kotak sesuai urutan. Tantangannya, undas harus masuk tepat ke dalam kotak tanpa menyentuh garis. Kalau meleset alias keluar kotak, maka giliran pun berpindah ke pemain berikutnya.
Setelah undas masuk ke kotak target, pemain harus melompati kotak-kotak itu dengan satu kaki—dalam istilah lokal disebut loncat inting. Namun, ada aturan unik: pemain tidak boleh menginjak kotak tempat undas berada, dan juga tidak boleh menginjak kotak yang sudah menjadi "rumah" milik pemain lain. "Rumah" dalam permainan ini adalah kotak yang berhasil dimenangkan dan menjadi milik seorang pemain.
Permainan terus berlanjut hingga seluruh kotak telah menjadi "rumah". Di akhir permainan, anak yang memiliki jumlah kotak terbanyak dinyatakan sebagai pemenang. Tetapi sebenarnya, semua anak yang terlibat dalam permainan ini sudah menjadi pemenang—karena mereka telah melatih kelincahan, kerja sama, serta belajar nilai kejujuran dan sportivitas.
Budayawan Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur menyebut permainan seperti ini bukan sekadar hiburan anak-anak. "Permainan tradisional ini mengajarkan tentang disiplin, menghargai giliran, dan menjalin keakraban. Nilai-nilai ini sangat penting ditanamkan sejak dini, dan semua itu ada dalam permainan yang tampak sederhana ini," jelasnya.
Senada dengan itu, Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga di Dispora Kalimantan Selatan, Budiono menyatakan bahwa permainan tradisional merupakan bentuk olahraga sekaligus pendidikan karakter. “Permainan ini melibatkan aktivitas fisik yang positif, merangsang motorik anak, dan tentu saja mempererat interaksi sosial. Ini warisan budaya yang tidak boleh dilupakan,” ujarnya.
Di era modern ini, permainan tradisional anak Banjar menjadi pengingat bahwa kesenangan dan pembelajaran tidak harus datang dari layar digital. Dengan tanah sebagai papan permainan dan tawa sebagai irama, anak-anak bisa belajar, tertawa, dan tumbuh bersama—seperti yang sudah dilakukan oleh generasi-generasi sebelumnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief