Kabupaten Barito Kuala memiliki rumah yang memiliki sejarah. Rumah Bulat. Lokasinya berada di Jalan Panglima Wangkang, Kelurahan Marabahan Kota, Kecamatan Bakumpai, Batola. Posisinya menghadap Sungai Barito.
Nilai terpenting dari rumah tersebut bukan pada arsitekturnya yang dipengaruhi bangunan joglo Jawa. Melainkan nilai sejarahnya sebagai bekas markas kaum pergerakan khususnya dari kalangan pemuda Marabahan (Bakumpai).
Sejarawan Kalsel, Wajidi Amberi mengatakan dari beberapa sumber diketahui bahwa Rumah Bulat didirikan oleh seorang demang di Kewedanan Bakumpai, bernama H Abdul Azis. Dibangun sekitar tahun 1875.
Rumah ini kemudian digunakan sebagai gudang atau tempat menyimpan barang-barang milik demang. Sedangkan pemiliknya sendiri bertempat tinggal di sebuah rumah yang berada tepat di belakang rumah bulat tersebut.
Pada mulanya rumah ini pernah digunakan sebagai tempat kegiatan keagamaan HM Japeri, salah seorang ulama di Marabahan. Di awal abad ke-20, di rumah ini menjadi tempat perkumpulan musik untuk menampung bakat seni para pemuda Marabahan. Namun lama kelamaan, perkumpulan ini menjadi sebuah organisasi kepemudaan bernama Persatuan Pemuda Marabahan (PPM) dibentuk pada tanggal 1 Maret 1929. Ketuanya M Ruslan. PPM bermarkas di sebuah rumah Joglo yang disebut masyarakat setempat dengan nama Rumah Bulat.
Dalam organisasi PPM, mereka mendirikan Taman Bacaan (Het Leesgezelschap) dengan nama Family Bond bertempat di Rumah Bulat bergabung dengan perkumpulan musik yang telah ada. Mereka berlangganan surat kabar dan majalah. Dari surat kabar dan majalah tersebut, para pemuda Marabahan dapat mengikuti berita dan membaca tulisan mempropagandakan cita-cita kebangsaan yang saat itu telah tumbuh di Jawa maupun di tempat lainnya. “Datangnya tokoh-tokoh pergerakan dari Jawa juga turut mewarnai tumbuhnya benih-benih kebangsaan dan semangat pergerakan,” terang Wajidi.
Pada tahun 1930, Persatuan Pemuda Marabahan memperluas tujuan dan ruang geraknya dengan mensponsori berdirinya Sarekat Kalimantan dengan Pedoman Besarnya HM Arip. Perubahan nama menjadi Sarekat Kalimantan antara lain dalam rangka memenuhi syarat untuk menjadi anggota Indonesia Muda yang dibentuk setelah Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928. “Setelah terbentuknya cabang-cabang Sarekat Kalimantan, di daerah lainnya di Kalimantan, maka Sarekat Kalimantan melangsungkan kongresnya yang pertama pada tahun 1930 di Bakumpai (Marabahan),” papar Wajidi.
Di Marabahan, atas dorongan HM Arip telah berdiri pula PHIS Swasta pada tahun 1929, oleh para pemuda Marabahan yang dikelola oleh Sarekat Islam. Mula-mula PHIS dipimpin dan diajar oleh Marjono (pegawai Borneo Post). Mengingat pesatnya perkembangan sekolah tersebut, Marjono mendatangkan teman-temannya yakni Sutomo dan Sunaryo anggota Sarikat Buruh di Surabaya untuk menjadi guru di PHIS. “Pusat kegiatan PHIS bertempat di Rumah Bulat, bergabung dengan Sarekat Kalimantan,” tambahnya.
Setelah berlangsung enam bulan, kegiatan PHIS mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Hindia Belanda. Para pemimpinnya dicurigai sebagai anggota partai terlarang. Belanda mengambil tindakan tegas dengan menggerebek Rumah Bulat, dan menahan Marjono dan Sunaryo dan selanjutnya dibuang ke Boven Digul (Irian Barat).
Atas anjuran Marjono sewaktu akan ditahan agar kegiatan PHIS tetap dilanjutkan dengan bantuan Taman Siswa, maka tokoh-tokoh Marabahan bersama Sutomo yang muncul kemudian berangkat ke Yogyakarta menemui tokoh-tokoh Perguruan Taman Siswa. Sebagai hasil hubungan itulah pada tahun 1931, Ki Hajar Dewantara mengirimkan guru-guru Taman Siswa yaitu M Yusak, Sundoro dan Yusyadi.
Sejak PHIS dibantu pengelolaannya oleh ketiga guru tersebut maka pada tanggal 1 Januari 1931, atas persetujuan bersama ditetapkan bahwa PHIS dijadikan Perguruan Taman Siswa cabang Marabahan dengan kegiatan bertempat di Rumah Bulat. “Dari Marabahan, Taman Siswa berkembang di daerah lainnya seperti di Banjarmasin, Kandangan, Barabai, Kelua dan Kuala Kapuas,” sebutnya.
“Setelah tahun 1942, tentara Jepang datang ke Marabahan, dan mengambil alih Rumah Bulat. Namun tidak berlangsung lama, karena Marabahan kembali dikuasai oleh NICA, menyusul kekalahan Jepang melawan Sekutu dalam Perang Asia Timur Raya,” tambahnya.
Sebelum NICA datang, Rumah Bulat sudah terlebih dahulu dikuasai oleh para pemuda Marabahan yang tergabung dalam Pemuda Persatuan Rakyat Indonesia (PPRI). Rumah ini juga ditempati oleh Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) IX Pelopor, yakni sembilan pelaku ekspedisi dari BPKI Surabaya pimpinan Bung Tomo. Mereka dipimpin oleh H Ahmad Hasan dan Jaderi, berangkat dari Panarukan (7 November 1945) dengan kapal layer, dan berhasil mendarat di Samuda (Sampit) pada tanggal 18 November 1945.
Editor : Arief