Desa Karuh yang terletak di Kecamatan Batumandi, Kabupaten Balangan, memiliki cerita unik di balik penamaannya. Nama "Karuh" ternyata berasal dari fenomena alam yang kini sudah tidak lagi bisa disaksikan. Di situ ada sebuah sungai dengan aliran air dua warna.
Menurut cerita turun-temurun yang dituturkan oleh masyarakat setempat, dahulu kala di Desa Tapuk, wilayah tetangga yang kini masuk Kabupaten Hulu Sungai Tengah, terdapat sebuah sungai dengan dua warna air yang berbeda. Di satu sisi, air sungai berwarna keruh karena melewati persawahan.
Saat musim bertani, air yang mengalir dari sawah membawa lumpur, membuat sungai terlihat keruh. Sementara di sisi lain, air sungai tetap jernih karena sumbernya mengalir melalui rawa tanpa melewati area persawahan.
Cerita ini berawal dari aktivitas Datuk Kandang Haji, atau yang dikenal juga sebagai Datuk Surya Alam Sakti, seorang tokoh masyarakat yang sering menyadap aren di daerah Tilang, wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Dalam perjalanannya, datuk selalu melewati Desa Tapuk dan memperhatikan sungai dua warna tersebut.
Datuk Kandang Haji sering membicarakan sungai ini bersama adiknya, Datuk Intil. Keduanya kemudian sepakat untuk menggarap wilayah tersebut.
Dalam pembagian wilayah, Datuk Kandang Haji mempersilakan adiknya memilih terlebih dahulu. Datuk Intil memilih wilayah Tilang yang airnya jernih. Sementara Datuk Kandang Haji mendapatkan wilayah Tapuk yang airnya keruh.
"Perbatasan wilayah mereka ditandai dengan titik temu antara air keruh dan air jernih di sungai tersebut," tutur Halianur, Pamong Budaya Disdikbud Balangan.
Setelah Datuk Kandang Haji wafat, wilayah Tapuk yang digarapnya semakin berkembang. Penduduknya pun bertambah banyak, hingga akhirnya terbentuklah pemerintahan desa. Untuk melengkapi syarat administratif, nama desa pun dipilih.
"Nama 'Karuh' diambil dari kata 'banyu karuh' yang merujuk pada air keruh di sungai bagian wilayah Datuk Kandang Haji. Nama ini dipilih sebagai penghormatan terhadap sejarah dan perjuangan Datuk Kandang Haji dalam mengembangkan wilayah tersebut," jelas Halianur.
Sayangnya, sungai dua warna yang menjadi saksi bisu sejarah Desa Karuh kini sudah tidak lagi bisa ditemui. Menurut Halianur, sungai tersebut mati karena tidak terawat. "Bekas sungai itu sudah tidak bisa dilacak lagi. Ini menjadi pengingat bagi kita untuk menjaga kelestarian alam," ujarnya.
Cerita asal usul Desa Karuh tidak hanya sekadar legenda, tetapi juga menggambarkan kearifan lokal dalam memanfaatkan dan menghormati alam. Hilangnya sungai dua warna menjadi pelajaran penting tentang pentingnya menjaga lingkungan agar warisan sejarah dan budaya tidak punah.
"Kisah ini mengajarkan kita untuk menghargai alam dan sejarah. Mari jaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman," pesan Halianur.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief