Syekh Muhammad Nafis bin Ideris bin Husein al-Banjari adalah ulama besar asal Banjar yang hidup pada abad ke-18 hingga ke-19. Ia dikenal sebagai seorang sufi dan pemikir tasawuf yang berpengaruh di Nusantara.
Lahir sekitar tahun 1735 M, ia merupakan keturunan bangsawan Banjar, dan menghabiskan sebagian hidupnya menimba ilmu di Mekkah. Di sana, ia menulis ad-Durrun Nafis, kitab tasawuf monumental yang berpengaruh di Asia Tenggara pada masanya.
Kitab ini menjelaskan konsep tauhid dalam empat aspek: af‘al (perbuatan), asma (nama), sifat (karakteristik), dan zat (hakikat). Ditulis dalam bahasa Jawi dengan aksara Arab-Melayu, kitab ini bertujuan agar dapat dipahami masyarakat yang tidak menguasai bahasa Arab.
Sepulang dari Mekkah, Syekh Muhammad Nafis aktif berdakwah di wilayah Kelua, yang saat itu menjadi pusat penyebaran Islam di utara Kerajaan Banjar. Ia dikenal sebagai ulama rendah hati yang tidak mengangkat diri. Bahkan dalam karyanya, ia menyebut dirinya sebagai “faqir yang hina”.
Dalam perjalanan intelektualnya, ia berguru pada beberapa tokoh sufi besar, seperti Syekh Abdullah bin Hijaz as-Sargawi, dan Syekh Shiddiq bin Abdul Karim Saman al-Madani. Setelah mendapat izin mengajar dari para gurunya, ia mulai menyebarkan ajaran tasawufnya, mengajak masyarakat untuk bertauhid kepada Allah.
Syekh Muhammad Nafis meninggal di Kelua, dan dimakamkan di Desa Binturu. Meskipun ada perbedaan pendapat mengenai lokasi pasti makamnya, warisan intelektualnya tetap hidup. Selain di Mekkah, kitab ad-Durrun Nafis telah dicetak di berbagai tempat, termasuk Mesir, Singapura, dan Surabaya.
Hingga kini, pemikirannya masih dipelajari oleh para pengkaji tasawuf di Tanah Air, terutama di Kalimantan Selatan, tempat asalnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief