Dulunya di Desa Pematang Karangan Hilir, Kecamatan Tapin Tengah mempunyai pasar tradisional. Namun, jalurnya lewat sungai. Pasar itu merupakan satu-satunya penggerak perekonomian masyarakat di desa tersebut.
Namun sekarang, pasar itu sudah tidak ada lagi. Berubah 100 persen, karena jadi permukiman masyarakat serta terbangun Kantor Desa PK Hilir, PAUD Noor Rezki dan TK Penerus Bangsa 1.
Salah seorang tetua di sana, Nani menceritakan pasar tersebut terkenalnya dengan nama Pasar Pandahan. “Dilaksanakan setiap Selasa, namun Senin malam pedagang sudah datang. Di sana mereka langsung berjualan di lapak yang sudah disediakan,” ungkap pria berumur 70 tahun ini.
Rata-rata pedagang yang datang merupakan warga luar daerah. Seperti dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan sampai dengan Provinsi Kalimantan Tengah. “Jadi mereka menggunakan perahu kecil untuk membawa dagangan masing-masing,” katanya.
Mereka yang membawa dagangannya terlebih dahulu menyandarkan barangnya di pelabuhan yang posisinya dekat jembatan. “Untuk pasarnya, sekarang jadi permukiman,” tunjuknya.
Jalur sungai ini dimulai dari sungai Margasari, ke Rawa Muning, kemudian ke Pandahan, Matang Karangan, sampai Tatakan. “Memang dulu itu jalur sungai sangat dominan. Karena jadi alternatif perdagangan,” ucapnya.
Warga RT 4 ini menyebut pasar itu sudah ada sejak zaman dahulu. “Dahulu sulit ke Rantau, karena akses jalan yang hanya bisa lewat sungai,” ungkapnya.
Diberitahukan Nani, pasar tersebut sempat pindah ke simpang tiga. Alasannya karena pengerukan sungai. “Jadi akses jalan untuk menyeberang tidak bisa, hanya bisa pakai kapal. Masyarakat pun terbatas untuk ke pasar,” ingatnya.
Walaupun dipindah, ia mengakui bahwa tidak seramai sebelumnya. Akhirnya pasar tersebut sekitar tahun 1975, sudah tidak ada lagi. “Sebenarnya dulu itu sekali warga membeli keperluan di pasar, cukup sampai satu minggu,” jelasnya.
Selain sebagai tempat perdagangan, di pasar itu juga dijadikan tempat untuk pertunjukan kesenian masyarakat. “Jadi sekalian membeli keperluan sehari-hari, juga sebagai tempat untuk hiburan masyarakat,” kisahnya.
Untuk hiburannya, mulai dari Mamanda, nonton film bersama kuda gipang, orkes dan lain-lainnya. “Memang sebelum ada pasar, kesenian di sini sudah berkembang,” terangnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief