Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ibnu Hadjar: Pejuang Kalimantan yang Kecewa, Lalu Dicap Sebagai Pemberontak

Riyad Dafhi Rizki • Senin, 17 Maret 2025 | 10:01 WIB
SEJARAH: Ibnu Hadjar (kanan) ikut mengusir penjajah, tapi juga dianggap pemberontak.
SEJARAH: Ibnu Hadjar (kanan) ikut mengusir penjajah, tapi juga dianggap pemberontak.

TAHULAH pian, ada perdebatan tentang kisah pemberontakan Ibnu Hadjar? Ibnu Hadjar adalah seorang tokoh kontroversial dari Kalsel. Dirinya adalah seorang pejuang yang membantu mengusir penjajah dari Tanah Banjar. Namun belakangan, menginisasi gerakan pemberontakan dengan kelompok Kesatuan Rakyat yang Tertindas (KRyT).

Namun motif pemberontakan Ibnu Hadjar sendiri menjadi bagian menarik untuk dibahas. Cerita tersebut tertuang dalam jurnal berjudul “Pemberontakan KRyT di Kalimantan Selatan (1950-1963)” karya Muhammad Iqbal dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya.

Awal Kekecewaan

Pasca-kemerdekaan, ribuan gerilyawan yang tergabung dalam Divisi IV ALRI di Kalimantan menghadapi realitas pahit. Mereka harus memilih antara melanjutkan karir militer atau kembali ke masyarakat sipil.

Namun, bergabung dengan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) tidaklah mudah. Persyaratan teknis militer membuat banyak mantan pejuang gagal memenuhi standar ini.

Akibatnya, mereka dipulangkan dengan hanya membawa selembar kain, surat penghargaan, dan sedikit uang. Ironisnya, kebijakan UndangUndang Darurat No 4 Tahun 1950 justru mengintegrasikan pasukan KNIL — tentara bentukan Belanda—ke dalam APRIS.

Para mantan prajurit KNIL bahkan diberikan pangkat tinggi. Sementara para pejuang gerilya yang melawan Belanda hanya menjadi prajurit rendah. Situasi ini menjadi pukulan berat bagi banyak pejuang di Kalimantan.

“Setelah dijajah Belanda, kini Kalimantan dijajah Jawa,” sindir rakyat setempat, mencerminkan kekecewaan terhadap pemerintah pusat.

Ibnu Hadjar dan KRyT

Meski bukan bagian dari gerilyawan yang ditolak masuk APRIS, Ibnu Hadjar bersimpati kepada para rekannya yang merasa dikhianati. Pada tahun 1950, ia melakukan desersi dari tugas militer di Pontianak, membawa persenjataan, dan membentuk kelompok bersenjata Kesatuan Rakyat yang Tertindas (KRyT).

KRyT terdiri dari mantan pejuang yang kecewa terhadap pemerintahan. perlawanan mereka bukan sekadar melawan kebijakan pusat, tetapi juga menjadi simbol kekecewaan terhadap minimnya penghargaan atas perjuangan lokal.

Hubungan dengan DI/TII

Sejarah resmi Indonesia menyebutkan bahwa Ibnu Hadjar dianggap sebagai orang yang tidak nasionalis karena pada tahun 1957, Ibnu Hadjar bergabung dengan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin Sekarmaji Maridjan Kartosoewirjo.

Ia kemudian diangkat sebagai Panglima Angkatan Perang Tentara Islam (APTI) wilayah Kalimantan. Namun, sejarawan seperti C. van Dijk dan Solahudin menyatakan bahwa keterlibatan Ibnu Hadjar dengan DI/TII dimulai jauh sebelum tahun 1957, yakni pada akhir 1954.

Pendapat ini menunjukkan adanya hubungan antara KRyT dan DI/TII sebagai bagian dari jaringan gerakan Islam yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia, seperti Sulawesi Selatan dan Aceh.

Bukan Karena Tidak Nasionalis

Meski kerap dikaitkan dengan DI/TII, beberapa sejarawan, termasuk Nazaruddin Sjamsuddin berpendapat bahwa pemberontakan Ibnu Hadjar bukan karena tidak nasionalis, tetapi lebih didorong oleh kekecewaan sosial-ekonomi.

KRyT dianggap lebih mirip gerakan akar rumput yang meniolak kontrol negara, ketimbang sebagai bagian integral dari Darul Islam. Beragam label yang diberikan kepada kelompok Ibnu Hadjar, seperti “Kesatuan Rakyat Indonesia yang Tertindas”, “Pasukan Islam”, hingga “Gerombolan Ibnu Hadjar”, mencerminkan kompleksitas  gerakan  ini.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#pemberontakan #hulu sungai selatan #Banjar #pejuang #Sejarah