Tahulah pian, di Kota Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, ada kampus yang khusus mencetak sarjana ahli bahasa Arab dan penghafal Al-Qur’an.
Namanya, Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Amuntai.
Kampus ini, berada di Jalan Amuntai-Rakha, Desa Pakapuran, Kecamatan Amuntai Utara.
Lokasinya masih satu kompleks dengan Ponpes Rakha dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Rakha Amuntai.
Di awal berdirinya, kampus ini hanya memiliki 48 mahasiswa dan mahasiswi pada tahun 2000.
Bahkan, hanya menempati ruangan salah satu gedung di Ponpes Rakha Amuntai.
Program studi yang dipilih untuk mendukung pengembangan ilmu Al-Qur’an adalah pendidikan bahasa Arab. Pertimbangannya, mengingat kampus ini berada di lingkungan pondok pesantren.
STIQ kemudian membuka prodi pondok pesantren yang sangat intensif mengajarkan materi pembelajaran dasar bahasa Arab kepada santrinya. STIQ sebagai institusi pendidikan tinggi diharapkan dapat menjembatani bakat dan minat santri untuk mendalami materi pendidikan berbahasa Arab.
Program studi strata 1 pendidikan bahasa Arab ini akhirnya mendapat persetujuan dari Direktorat Jenderal Kelembagaan Islam Kementerian Agama RI, dengan izin penyelenggaraan pendidikan bahasa Arab. Selanjutnya mendapat rekomendasi pembukaan program studi dari Kopertis Wilayah XI Kalimantan dengan mengoptimalkan kompetensi pembelajaran bahasa Arab.
Berapa alumni Timur Tengah yang telah banyak memiliki pengalaman dalam bahasa Arab juga direkrut. Pengajarnya menarik, sebab ada dari kampus terkemuka di Timur Tengah. Di antaranya dari Universitas King Abdul Aziz, Medina Islamic University, dan kampus lainnya di jazirah Arab, dan pengajar dari UIN atau IAIN dulunya.
Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Amuntai, Dr KH Hasib Salim mengatakan kampus ini sudah berdiri dua dekade lebih. Pendirian STIQ Amuntai tidak terlepas dari sejarah perhelatan MTQ tingkat Kalimantan Selatan pada tahun 2000. Saat itu, warga HSU menyambut dengan suka cita perhelatan MTQ tingkat provinsi tersebut, setelah terakhir kali dilaksanakan pada tahun 1976 lalu.
Dalam perjalanannya, muncul ide pendirian kampus yang khusus untuk mencetak sarjana bahasa Arab dan juga penghafal Al-Qur’an. Ide pendirian itu datang dari H Suhailin Muchtar yang menjabat bupati pada saat itu, sekaligus menjadi ketua lembaga pengembangan tilawatil quran kabupaten.
“Alhamdulillah dukungan datang dari pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah, sehingga kampus ini dapat berdiri hingga saat ini,” ujar Hasib.
Pemkab membangunkan STIQ Amuntai yang jarak 1,5 kilometer dari ibu kota Kabupaten. “Kalau tidak salah pemancangan tiang pertama dilaksanakan pada tanggal 3 Oktober 2000, oleh Gubernur Kalimantan Selatan saat itu Sjachriel Darham,” sampainya.
Pada tanggal 2 Oktober 2000, STIQ Amuntai secara resmi dibuka Bupati HSU H Suhailin Muchtar, dan disaksikan gubernur.
“Kuliah perdana diisi Prof Dr Said Agil As-Segaf Al-Munawar, merupakan Guru Besar dari Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta, dan unsur pemda pun juga hadir, saat itu,” ingatnya.
Dalam perjalanannya, sekolah tinggi ini mencetak sarjana Al-Qur’an bergelar S.Pdi yang menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief