Dalam budaya Banjar, wanita yang baru melahirkan memiliki pantangan khusus selama masa nifas. Pantangan ini terutama berkaitan dengan makanan dan aktivitas fisik guna menjaga kesehatan ibu setelah persalinan.
Budayawan Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur menjelaskan bahwa dalam kepercayaan masyarakat Banjar, wanita nifas tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan tertentu, seperti daging, makanan berbumbu banyak, serta berbagai jenis ikan kecuali haruan. Selain itu, mereka juga dihindarkan dari paparan sinar matahari langsung.
“Pantangan ini diyakini untuk mencegah penyakit ‘kalalah’, suatu kondisi di mana ibu yang baru melahirkan mengalami demam, meriang, pusing, serta tubuh lemas. Bahkan dalam beberapa kasus, wanita yang terkena kalalah bisa mengalami kesulitan bangun dari tempat tidur,” ujar Ersa.
Menurut kepercayaan turun-temurun, penyakit kalalah dapat terjadi jika seorang ibu melanggar pantangan yang telah ditetapkan. Jika ibu tetap mengonsumsi makanan yang dilarang, seperti daging atau makanan berbumbu, gejala kalalah dapat segera muncul.
“Kalalah sering dikaitkan dengan ketidakseimbangan tubuh akibat konsumsi makanan yang tidak sesuai. Oleh karena itu, dalam beberapa keluarga Banjar, makanan yang diberikan kepada ibu nifas cenderung hambar dan terbatas pilihannya,” tambahnya.
Dalam pengobatan tradisional Banjar, penyakit kalalah dapat disembuhkan dengan cara unik. Salah satu metode yang digunakan adalah dengan mengingat kembali makanan apa dilanggar, kemudian sisa makanan tersebut dicampur dengan air. Lantas disapukan ke kepala serta seluruh tubuh.
“Ada juga praktik menggunakan jelaga dari pantat panci yang kemudian disapukan ke ubun-ubun. Hal ini dipercaya dapat mengembalikan keseimbangan tubuh,” jelas Ersa.
Meskipun pantangan dan pengobatan tradisional ini masih dipraktikkan oleh sebagian masyarakat Banjar, Ersa Fahriyanur menekankan pentingnya keseimbangan antara tradisi dan ilmu medis modern dalam menjaga kesehatan ibu setelah melahirkan.
“Sebagai bagian dari budaya, kepercayaan ini memiliki nilai historis dan sosial yang kuat. Namun, penting juga untuk mengedukasi masyarakat agar memastikan kondisi kesehatan ibu pascamelahirkan sesuai dengan anjuran medis,” tutupnya.
Tradisi ini menunjukkan bagaimana kepercayaan lokal masih memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Banjar. Meskipun zaman terus berkembang, adat dan budaya tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan ibu dan bayi.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief