Di Kalsel, warga Tionghoa juga ada yang menetap di pusat kota Kotabaru. Bahkan sudah lama terjadi.
Jony Kamitono (Koh Tetek) tokoh Tionghoa sekaligus Sekretaris TITD An Hwa Tian (Klenteng Kotabaru) mengakui memang belum banyak orang yang tahu, kapan masuknya warga Tionghoa di Kotabaru. Menurutnya, awal masuknya warga Tionghoa ke Bumi Sa-Ijaan sudah lebih dari seratus tahunan lalu.
Ketika itu, pendatang dari dari Tiongkok ke Kalsel pada tahun 1895 lalu. Ada yang mengusung misi dagang ke Banjarmasin, ada pula ke Kotabaru.
Untuk di Kotabaru, tidak langsung berpusat di perkotaan seperti sekarang. Tapi tersebar di beberapa pesisir Kotabaru yang dekat dengan laut maupun sungai sebagai jalur perdagangan paling mudah. Di antara wilayahnya sekarang di Kecamatan Sungai Durian, Batu Besar, Tarjun, Pantai Kelumpang Selatan, Pagatan, Batulicin dan beberapa wilayah pesisir lainnya di Kotabaru.
Namun, berjalannya waktu, semuanya banyak yang hijrah ke pusat kota yang dekat Siring Laut. Pada saat warga Tionghoa sudah banyak menetap di situ, pusat kota porak poranda di 1941. Jepang mengebom tepat di Siring Laut.
Warga Tionghoa yang panik, lantas melarikan diri dan hijrah ke Sebelimbingan. Lokasi ini sekarang ada di dekat Pusat Kantor Bupati Kotabaru yang baru.
Setelah empat tahun di Sebelimbingan, terdengar kabar kekalahan Jepang. Ini membuat mereka sekitar tahun 1945-1946, kembali ke sekitaran Siring Laut, dan menetap sampai sekarang.
“Sebenarnya banyak buktinya. Tapi paling kuat adalah Klenteng An Hwa Tian yang sudah ada sejak dulu,” paparnya.
Klenteng itu pertama kali dibangun tahun 1895 atau sekitar 140 tahun lalu. Dulunya bangunan klenteng ini terbuat dari kayu ulin. Kemudian dilakukan perbaikan pada 1987-1995.
Kini warga Tionghoa di Kotabaru ada sekitar 55 KK. Semuanya hidup damai berdampingan dengan suku dan agama lainnya di Kotabaru. “Kita bersyukur bahwa di Kotabaru ini menghargai perbedaan sangat tinggi. Kami juga tidak pernah merasa dikucilkan,” ucapnya bangga.
Koh Tetek berterima kasih kepada masyarakat Kotabaru dan jajaran di pemerintahan. Mengingat suasana selalu kondusif, nyaman, aman dan damai.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief