Etnis Dayak Meratus memiliki berbagai upacara adat, antara lain untuk penyambutan tamu, perkawinan, kematian, memulai kegiatan pertanian (bahuma) dan upacara untuk merayakan hasil panen mereka yakni Aruh Ganal, Baharin, dan Bawanang.
Aruh Ganal merupakan upacara adat yang terdapat pada suku Dayak Meratus di pegunungan Meratus daerah Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, maupun Tapin. Aruh Ganal artinya kenduri besar. Upacara ini dilaksanakan secara besar-besaran oleh seluruh warga desa dan dihadiri para undangan dari desa-desa lainnya.
Disebut Aruh Ganal, karena dalam tradisi ada pula aruh kecil yang disebut Baatur Dahar. Baatur Dahar biasanya hanya dilakukan di lingkungan keluarga. Sebagai ukuran adalah apabila hasil panen berupa padi, kacang dan tanaman lainnya berhasil dengan baik sesuai yang diharapkan, maka dilaksanakan Aruh Ganal.
Sebaliknya jika panen kurang berhasil, maka cukup dilaksanakan aruh kecil atau bahkan tidak diadakan sama sekali. Tujuan dilaksanakan Aruh Ganal ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia yang dilimpahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam upacara ini, sekaligus pula dimaksudkan untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa agar pada tahun yang akan datang, mendapat hasil panen melimpah. Dijauhkan dari segala mara bahaya, penyakit, dan makhluk perusak tanaman.
Aruh Ganal biasanya dilaksanakan setahun sekali. Namun apabila musyawarah adat menganggap bahwa penduduk banyak yang kurang penghasilan panennya, maka aruh ganal tidak dilaksanakan pada tahun itu.
Waktu penyelenggaraan sesudah panen yang biasanya jatuh pada bulan Juli, dan pelaksanaan upacaranya pada bulan Agustus. Untuk menetapkan hari dan tanggalnya diputuskan dalam musyawarah desa yang dipimpin oleh Kepala Adat dan dibantu oleh Kepala Desa.
“Dalam penentuan hari dan tanggal pelaksanaan upacara ini selalu diperhatikan pada bulan muda menurut bulan Kamariah. Biasanya berkisar antara tanggal 1 sampai tanggal 15. Hal ini berhubungan dengan simbol bahwa rezeki selalu naik, apabila dilaksanakan pada tanggal tersebut,” kata sejarawan Kalsel, Wajidi Ambiri.
Upacara Aruh Ganal dilaksanakan selama 5 malam, bertempat di Balai. Bangunan adat yang dibangun oleh etnis Dayak Meratus.
Persiapan aruh dimulai dengan hari batarah yaitu sehari sebelum upacara dimulai. “Hari batarah maksudnya hari memulai pekerjaan, mempersiapkan segala sesuatu, membuat perlengkapan upacara, menyiapkan sesaji. Pekerjaan itu harus selesai dalam satu hari,” imbuhnya.
Perlengkapan upacara yang sangat penting adalah langgatan. Langgatan merupakan induk ancak dan sesaji. Untuk menghias langgatan dilakukan pada keesokan harinya setelah malam pembukaan. “Di samping langgatan, masih ada beberapa ancak lagi. Masing-masing mempunyai fungsi dan berisi makanan sesaji yang berbeda makna dan tujuannya,” tambahnya.
Nama perlengkapan upacara lainnya adalah Kalangkang dibuat sebanyak tiga buah. Pertama, disebut Kalangkang Mantit (nama nenek moyang burung), Kalangkang Nyaru (Dewa Petir) dan Kalangkang Uria (Dewa yang memelihara segala mangsa dan bala yang merusak tanaman). Ketiga kalangkang ini masing-masing diletakkan menurut kebiasaan yang berlaku.
“Biasanya Kalangkang Mantit diletakkan di sebelah kiri pintu masuk Balai, agak ke kanan sedikit diletakkan Kalangkang Nyaru, dan Kalangkang Uria diletakkan di dalam Balai,” sebutnya.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief