Pasar Sudimampir adalah nama pasar terkenal di Kalsel. Bahkan muncul istilah Sudimampir adalah Tanah Abang-nya Banjarmasin. Selain menjual eceran, pasar ini merupakan pusat grosir terbesar di Banjarmasin.
Pasar yang terletak di Jalan Ujung Murung, Banjarmasin Tengah ini sudah sejak lama ada, dan dikenal sebagai pasar yang menjual berbagai busana. “Biasanya pedagang dari berbagai daerah di Kalsel, Kalteng, maupun Kaltim berbelanja di pasar tersebut. Kemudian menjualnya lagi ke berbagai daerah,” kata sejarawan Mansyur.
Perjalanan sejarah pasar ini cukup menarik. Dari mana asal kata Sudimampir? Dalam catatan begawan sejarawan Banjar, Prof Muhammad Idwar Saleh tidak pernah menyinggung tentang asal nama ini.
Baca Juga: Uji Coba, Belum Sepenuhnya Cashless di Kawasan Pasar Sudimampir Banjarmasin
Kecuali pada sumber tertulis Hindia Belanda. Soedi Mampir, pertama kali dipakai dalam Majalah Poetri Hindia no 3 tahun 1909. Belum dapat dipastikan apakah Sudimampir mengabadikan nama ini, karena minimnya data pembanding.
“Diperkirakan pasar tersebut dibangun tahun 1920. Tetapi pendapat Idwar, pembangunan digagas Ir Kartens tahun 1937. Pelaksanaannya bertahap 3 sampai 5 tahun, dan realisasinya hingga tahun 1942,” ujarnya.
Pada masa itu dibangunlah pasar baru untuk menjual sayur dan ikan di tepi Sungai Martapura. Letaknya pada persimpangan tiga jalan yang disebut Pasar Sudimampir.
Baca Juga: Razia di Kawasan Sudimampir, Enam “Kupu-Kupu Malam” Dijaring
Berbeda dengan sumber kolonial. Terdapat catatan bahwa pada tahun 1928, ada bencana kebakaran di Pasar Sudimampir. Artinya tidak dibangun tahun 1937.
Kemungkinan penentuan waktu tahun 1937 dibangunnya Pasar Sudimampir, bukan kebakaran tahun 1935. “Bahaya kebakaran menjadi momok menakutkan bagi pemilik toko di sepanjang Pasar Sudimampir. Sepanjang tahun 1928 sampai tahun 1935, pasar ini sering dilanda kebakaran,” ujarnya.
Pertama pada tahun 1928, pasar ini dilalap si jago merah. Sayangnya sangat minim data tentang kebakaran ini. Berikutnya tahun 1931, seperti diberitakan Koran De Sumatra Post, edisi 13 Maret 1931 ditulis pasar milik Gemeente yakni Soedi Mampir dilanda kebakaran.
Baca Juga: Uji Coba Parkir Digital, di Pasar Sudimampir Banjarmasin
Kebakaran itu membuat Polisi Hindia Belanda turun tangan. Sebab dicurigai ada upaya pembakaran dengan sengaja. Sebab hasil penyelidikan dan fakta di lapangan api yang berawal dari sebuah toko kosong ditemukan sejumlah bukti. “Polisi menemukan ada lilin anti nyamuk panjang dibakar dengan tangki direndam bensin, dan terhubung dengan tiga botol minyak yang sudah terisi pada tas,” ujarnya menceritakan.
“Salah satu orang yang diduga terlibat bernama Goey A Moey berhasil ditangkap oleh polisi,” tambahnya.
Tahun 1933, kebakaran besar kembali terjadi. Sepuluh toko hangus terbakar. Penyebab kebakaran tidak diketahui. Berselang dua tahun, tepatnya tahun 1935, api lagi-lagi menghanguskan deretan toko di Pasar Sudimampir.
Pasar ini pun terus berkembang hingga masuknya invasi Jepang tahun 1942. Pada masa Jepang dilakukan penghancuran Kota Banjarmasin secara besar-besaran oleh Pemerintah Hindia Belanda.
“Tujuannya agar fasilitas ini tidak digunakan oleh Jepang. Deretan toko di Pasar Ujung Murung sampai dengan Pasar Lima habis, termasuk pula daerah Sudimampir,” tutup Mansyur.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief