Desa Miawa, terletak di wilayah pegunungan Meratus, tepatnya Kecamatan Piani Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan. Desa ini memiliki luas wilayah 600 hektare, terdiri dari perbukitan dan persawahan yang berada di ketinggian 780 meter sampai 785 meter di atas permukaan laut.
Di wilayah ini, hanya terdapat 2 RW dan 5 RT. Dari pusat kota Rantau berjarak sekitar 20 kilometer atau kurang lebih 40 menit untuk menuju ke sana. Desa ini berbatasan dengan empat desa, yakni Desa Batu Laki Kabupaten Hulu Sungai Selatan di sebelah utara, Desa Hangui Kecamatan Bungur di sebelah selatan, Desa Baramban sebelah barat dan Desa Batu Ampar di sebelah timur.
Berbatasan dengan empat desa, konon di desa ini didatangi untuk menyambung nyawa. Kepala Desa Miawa Amat menuturkan, dari cerita orang tua di sana, kebanyakan warga desa yang ada sekarang merupakan orang pendatang.
Kebanyakan yang datang ke Desa Miawi merupakan orang bermasalah di kampung asalnya. Kemudian lama kelamaan mereka pun menetap. “Dari cerita orang tua dulu, kebanyakan orang di sini dari kabupaten Hulu Sungai Selatan. Tujuan mereka datang ke sini untuk menyambung nyawa,” ujarnya bercerita.
Dia mengungkapkan, jika pendatang tersebut tak bisa bergaul dengan masyarakat setempat. Tak hanya diusir keluar dari desa ini. “Dari cerita dulu, kalau tidak bisa bergaul dengan masyarakat, nyawanya bisa melayang. Namun, kalau bisa bergaul akan mudah dan diterima,” imbuhnya.
Nama Miawa sendiri diambil dari nama sungai yang mengalir di kawasan tersebut. Dulu di desa ini, jalannya hanya setapak dan belum ada alat transportasi darat. Aktivitas warga hanya mengandalkan transportasi sungai. “Transportasi sungai begitu penting kala itu. Selain untuk warga beraktivitas, juga membantu pengiriman hasil pertanian ke daerah lain,” terang Amat.
Desa Miawa termasuk yang pertama di Kecamatan Piani, usai kecamatan ini dimekarkan dari Kecamatan Bungur. “Jumlah penduduknya sekarang sebanyak 1.431 jiwa, dengan rincian 678 laki-laki dan 663 perempuan, dengan kebanyakan mata pencahariannya berkebun dan bertani,” ujarnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief